Chapter 4 My Star Garden; New Friend?

Aily hanya bisa berkedip-kedip mendapati Chanyeol yang seolah mengurung dengan tangan menumpu di kedua sisi lengannya. Mata hitam dan besarnya menatap Aily lurus, sementara wajahnya mendekat sampai-sampai Aily takut untuk sekedar bernapas. Ya, lebih tepatnya takut hembusan itu menyapu wajah Chanyeol.

"C-Chanyeol apa yang kau lakukan?" tanya Aily gugup.

Berbalik dengan apa yang dirasakan Aily, Chanyeol justru tertawa sambil menyengir. "Aku hanya ingin menyelimuti Aily. Bukankah selimut itu menutup di atas yang diselimuti?"

Aily menelan ludahnya cepat. "Jadi kau akan tidur di atasku, begitu?" tanyanya tak kalah polos.

Chanyeol mengangguk-angguk sarat arti.

"Aku bisa menjadi keripik kalau seperti itu," jawab Aily sambil cemberut.

Chanyeol ikut menatap sedih. "Benar juga, ya. Jadi aku tidak bisa menghangatkan Aily?"

"Sudah kubilang tidak perlu. Aku merawatmu ikhlas tanpa pamrih apapun."

Chanyeol menggerak-gerakkan tubuhnya, membuat Aily terkejut. "Tapi aku ingin memeluk Aily..."

Tanpa basa-basi, bisa dirasakan bahwa Aily semakin tenggelam ke dalam kasur empuk itu. Semua seakan melesak, dan didapati bagian atas tubuhnya mengahangat luar biasa. Rasanya sedikit berat memang, tapi kepalanya meringan saat kepala Chanyeol mengendus di lehernya perlahan. Rambutnya yang halus begitu menggelikan.

"A-apa yang kau-"

"Leher Aily dingin, jadi aku akan..."

Sebuah kecupan ringan bisa gadis itu rasakan sekarang. Dadanya mendadak berdebar tak karuan.

"C-Chanyeol... Kau..."

"Ailychan tau? Setelah aku mendapat celana," Chanyeol memberi jeda. "Itu artinya aku sudah melebihi usiamu dua tahun."

Mendadak jantung Aily seakan menyembul ke luar. Bagaimana tidak? Ia baru menyadari bahwa suara Chanyeol sepertinya... Memberat?

Jujur saja Aily takut. Ia sadar, Chanyeol saat ini berbeda dengan Chanyeol satu hari yang lalu. "D-dua tahun? La-lalu untuk apa kau bertingkah seperti ini? M-menjauhlah..."

Gawat. Jika memang aturannya seperti ini maka Aily tidak ingin melanjutkan game itu lagi. Tidak boleh.

"Aily sangat dingin. Aku tidak tega."

Hening sebentar.

Perasaan Aily mulai lemah saat ungkapan manis itu keluar dari mulut Chanyeol.

"M-memang udaranya dingin. Aku baik-baik-"

Sekali lagi, Aily merasa lehernya menghangat karena bibir itu kembali mengecupnya. Kali ini lebih lama. Semakin lama, Aily merasa kehangatan di dalam lehernya meremang ke seluruh tubuh.

"Kalau k-kau seperti ini aku tidak akan memainkanmu lagi. Aku akan meng-uninstall game-nya setelah i-"

"Jangan," sela Chanyeol.

"Maka menjauhlah!" teriak Aily tepat di sebelah telinga laki-laki itu.

"Aily... Apa yang kau suruh menjauh? Apa di kamarmu ada kucing lagi??"

Aily tersentak saat suara eomma-nya menggelegar dari luar kamar. Untung, Aily sudah mengunci pintu.

"Ya, eomma... Kucing itu datang lagi, tapi sekarang sudah pergi..," jawab Aily sedikit lemah, sementara matanya masih menatap Chanyeol penuh penekanan.

Beberapa saat, terdengar langkah eomma-nya menjauhi kamar.

"Kau laki-laki dan aku perempuan. Ini tidak boleh," lanjut Aily pada Chanyeol. Jujur, seumur-umur baru kali ini gadis itu menasehati laki-laki.

Chanyeol bersikeras. "Aily...."

"Aku tidak akan main-main dengan ucapanku," tegas Aily sekali lagi bersamaan dengan tangannya yang mendorong Chanyeol sekuat tenaga hingga tubuh besarnya terjungkah ke bawah ranjang.

Bisa dilihat, Chanyeol meringis memegangi pantatnya.

Tanpa basa basi, Aily meraih ponsel yang memang ada di sampingnya, lalu mengotak-atik bagian aplikasi My Star Garden untuk dihapus akun sekaligus di-uninstall.

Curiga dengan pergerakan tangan Aily di layar ponsel, Chanyeol mendelik dan detik itu berdiri. Direbutlah ponsel itu, lalu menggenggam kedua tangan Aily sebagai permohonan.

"Ailychan... Aku masih ingin hidup... Kalau Ailychan hapus game-nya, aku akan mati... Ailychan mau aku mati? Jangan dihapus, ya..," ucap Chanyeol memelas sedikit mencebik.

Aily menggeleng cepat seolah ini adalah keputusan terakhirnya yang super bulat. "Tidak ada permintamaafan. Kau berpengaruh buruk bagiku. Kau berani menyentuhku, kau mengganggu belajarku, kau mengotori kamarku, kau membuat tempat tidurku sempit, dan kau-"

Detik itu, Chanyeol menunduk lantas terisak kecil. Matanya yang besar bergelinang air hingga bulir demi bulir jatuh meluncur melalui pipinya yang cukup tembam.

Aily tertegun.

Semakin lama, isakan Chanyeol semakin keras. Sesekali laki-laki itu mengangkat lengan bawahnya untuk mengucek mata.

"Baiklah... Hiks...Aku su-sudah membuat Ailychan tergang- hiks... H-hapus saja..."

Mendadak, Aily sedih dan rasa sesal menyelinap di hati terkecilnya. Ia terdiam menatap Chanyeol yang sesenggukan.

Chanyeol mengambil ponsel Aily untuk meneruskan aksi Aily sebelumnya yaitu menghapus game. Namun, secara spontan tangan Aily merebut ponsel dan detik itu merentangakan tangan memeluk Chanyeol.

"Tidak. Aku tidak mau Chanyeol pergi..," ucap gadis itu lirih.

"K-kalau aku mengganggu, Ailychan boleh menghapus game-nya," jawab Chanyeol tak kalah lirih dan takut-takut.

Aily menepuk punggung Chanyeol pelan. "Kau hanya perlu menurut. Bukankah kau sudah berjanji jadi anak yang penurut?"

Chanyeol mengangguk dua kali menciptakan rasa geli di bahu Aily.

"Kau tidak boleh melakukan hal seperti tadi padaku. Sekali kau melakukannya, aku tidak akan memberi maaf," ancam Aily yang terdengar menakutkan di telinga Chanyeol.

Chanyeol mengerjap lalu mengusapkan pipinya yang basah ke lengan Aily. "Kalau memeluk seperti ini boleh?" tanyanya.

Aily mengangguk mantap. "Ya, hanya memeluk."

"Terimakasih Ailychan..," Chanyeol membenarkan posisi. Jika semula membiarkan tangannya dipeluk Aily, maka kini beralih memeluk gadis itu sehingga tangan Chanyeol yang mendekapnya.

"Janji?" Aily memastikan.

Chanyeol tersenyum. "Ya, janji."

"Mana kelingkingmu?" tanya Aily sambil mengacungkan kelingking miliknyaㅡtetap di pelukan Chanyeol.

Chanyeol mendekatkan kelingkingnya pada kelingking Aily hingga keduanya saling terkait dan melengkung menjadi satu.

Aily yang merasa tidak puas karena belum melihat ekspresi Chanyeol pun mendongak menatapnya. Keduanya tersenyum bersamaan. Dan bisa Aily rasakan sekarang bahwa Chanyeol mengelus belakang kepalanya lembut.

"Chanyeol, apa pantatmu sakit?" tanya Aily merasa bersalah.

Chanyeol mengangguk.

"Maaf ya..," sesal Aily.

"Aku juga minta maaf..," balas Chanyeol terkesan ikut-ikut.

Setelah saling memaafkan, keduanya berubah menjadi sangat manis. Ya, Aily tidak ingin lagi membuat Chanyeol menangis. Chanyeol juga tidak ingin lagi melakukan hal selain berpelukan pada Aily, takut gadis itu marah.

Malam yang indah bagi keduanya. Chanyeol menunggu sambil menopang dagu di depan Aily yang sibuk mengerjakan tugas.

Berbicara soal tugas, Aily adalah siswi paling rajin mengerjakannya. Bahkan, ia rela jika harus mengorbankan waktu makannya asalkan tugas itu bisa diselesaikan dengan baik. Maka tau dengan kebiasaan tersebut, sang eomma-pun mengantarkan sepiring makanan dan segelas susu hangat ke kamarnya. Tentu saja, Chanyeol bersembunyi di bawah meja saat itu.

"Aily tidak mau memakannya?" tanya Chanyeol hati-hati. Sebenarnya ia ingin bertanya seperti itu pada Aily, tapi takut mengganggu karena wajahnya serius menatap ujung bolpoin yang tergurat di atas buku tulis.

Aily hanya menggeleng, lalu menjawab, "kau mau? Makan saja."

Chanyeol meletakkan pipinya di atas meja sebelah buku tulis Aily, membuat fokus Aily terpecah belah. Jujur saja, otak dan hati Aily sedang berperang antara ingin menatap buku itu atau wajah tak berdosa milik Chanyeol.

"Aily nanti sakit," tambah Chanyeol.

Aily berdeham, menatap Chanyeol satu detik pada bagian titik terkecil di hidungnya, lalu kembali pada buku. "Tidak, aku sudah terbiasa makan telat."

Tanpa aba-aba, Chanyeol menegakkan tubuh, lalu mengangkat piring itu. "Tidak boleh dibiasakan. Sekarang sudah ada aku jadi Ailychan tidak perlu khawatir. Aku akan menyuapi Ailychan, Ailychan lanjutkan menulisnya," ucap Chanyeol.

Entah mengapa, suara laki-laki itu terdengar lembut dan sabar. Hingga membuat Aily takjub dan terdiam.

"Bagaimana? Menyuapi tidak dilarang, 'kan?" Chanyeol memastikan.

Aily berpikir sebentar, lalu meletakkan bolpoin di atas buku tulis. Ia menggeleng sembari tersenyum, lantas membenarkan duduknya sedikit memutar ke arah Chanyeol sambil membuka mulut. "Aaa~~"

Dengan senang hati Chanyeol balas tersenyum dan menyuapi gadis itu sampai habis. Ya, disela suapannya Aily mengerjakan tugas hingga semua benar-benar selesai.

Setelahnya, Aily bersiap tidur dengan Chanyeol yang setia berada di sampingnya. Baru saja Chanyeol akan memiring dan memeluk Aily,

"aturan memeluknya adalah saat berdiri atau duduk, tidak boleh saat tidur," cegah Aily.

Chanyeol terdiam dengan wajah sedih. Detik berikutnya, laki-laki itu mengambil bantanya sendiri sebagai media peluk.

🌱🌱

Baru pagi ini Aily merasa berbunga-bunga. Hatinya seolah terisi dan tidak sepi lagi. Ya, tinggal satu kamar dengan Chanyeol adalah anugerah paling menakjubkan baginya.

Kini Aily sudah bersiap sebagaimana biasanya sebelum berangkat ke sekolah. Tidak seperti kemarin pagi, kali ini Chanyeol masih tertidur pulas dengan kaki serta tangan terentang memenuhi tempat tidur Aily.

Aily menggeleng-geleng. Dibenarkannya posisi itu, lalu mem-puk-puk kepala laki-laki berperawakan tinggi itu. "Chanyeolaa... Tunggu aku, ya. Aku akan mencarikanmu teman baru. Jadi selama aku di sekolah, kau tidak kesepian..."



Read the next chapter of "My Star Garden •  PCY" on wattpad, https://www.wattpad.com/user/xocheesexo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chanyeol x Sehun - We Young Lyrics

Imaginary Night (Chanyeol Imagine)