Imaginary Night (Chanyeol Imagine)
Title: Imaginary Night
Genre: Fanfiction (Ficlet), imagine
Cast: Park Chanyeol, Y/n (your name)
Rating: PG-16 (maybe)
Semua berasal dari khayalanku semata, apabila ada kesamaan scene berarti terinspirasi.
Find me on Wattpad @xocheesexo
Happy reading^^
(y/n) adalah seorang mahasiswi baru jurusan sastra di salah satu universitas ternama Korea.Kegemarannya menulis, tapi tak terlalu suka jika disuruh membaca. Mungkin itu egois, bukan? Tapi begitulah kenyataannya. Segala sesuatu yang ia tulis murni dari khayalannya selama ini. Khayalan yang seakan-akan melampaui batas indah hingga gadis itu lupa darimana asal dirinya.
Keluarga yang sederhana, bahkan jauh dari kata sederhana. Bagaimana bisa? Ya, ia hanya tinggal bersama eomma-nya yang bahkan tidak pernah menganggapnya anak. Mungkin pilihan frasa tidak menganggap terkesan jahat. Namun, itulah kenyataannya. Appa? Beliau menikah lagi dan tidak pernah berada di rumah sejak (y/n) masih kecil. Miris.
(y/n) tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Jika ada masalah, maka ia akan mengambil ponsel dan mengetik apa yang ia pikiran. Maka ia akan menghayal ada seorang pemuda yang menghampiri dan menenangkannya. Pemuda yang sangat tampan dengan tatapan matanya yang tajam mengalahkan mata pisau. Haha. Tidak juga. Yang jelas, mata itu begitu bening dan menenggelamkan siapapun yang melihat, itulah yang ada di bayangan (y/n).
Suatu malam (y/n) menangis tersedu-sedu di depan rumah. Masalahnya hanya sepele. Ya, eomma-nya bangun setelah tidur seharian, dan mendapati (y/n) belum memasak apapun. Beliau menghukum (y/n) karena hal itu. Ditarik paksa ke luar rumah, dipukul, dan dimaki-maki. Sebenarnya (y/n) tidak masalah dengan perlakuan itu, tapi yang membuat dadanya menyesak tidak kuat adalah bentakan. Ia membenci bentakan. Bentakan itu baginya lebih menakutkan dari halilintar. Dengan sekali bentak, (y/n) akan mengerut dan tangisnya pecah detik itu juga.
Hampir setiap hari, (y/n) mendapat bentakan yang bertubi-tubi sehingga ia selalu menangis pijar. Air matanya seolah tidak bisa kering. Menangis, menangis, dan menangis. Gadis itu juga acap kali takut sendiri ketika melihat sang eomma berdiri di depannya meskipun tidak melakukan apa-apa. Ya, ini sejenis trauma.
Pikirannya tidak pernah bisa senang. Entah mengapa ia sempat berpikir. Apakah semesta tidak mengijinkannya bahagia? Jika seperti itu, mengapa hidupnya tidak diakhiri saja?
Begitulah ia sekarang. Meringkuk sambil menghirup udara kuat-kuat seakan kerongkongannya itu tak muat lagi untuk dilalui udara, seakan kerongkongannya itu kering tidak minum satu tahun saking sakitnya.
Napasnya kembali tersendat. Namun detik berikutnya, (y/n) mulai memejamkan matanya yang perih, lalu berimajinasi.
Pemuda itu datang. Ia duduk berwibawa di atas seekor kuda putih yang cukup besar dan tangguh. Bisa dikatakan, pemuda itu bak seorang pangeran yang datang entah darimana. Matanya menyala, menampilkan sorot menakutkan seperti sedang mengancam.
(y/n) menggeleng-gelengkan kepala karena merasa aneh dengan imajinasinya. Ia tak ingin membayangkan sosok seperti itu, tapi mengapa muncul begitu saja?
Semakin (y/n) memejamkan mata, sosok itu semakin mendekat diiringi suara rintihan kuda yang membuat bulu (y/n) merinding. Dan setelah itu, dirasakanlah hembusan napas berada tepat di depan wajahnya secara nyata.
(y/n) terperanjat. Sosok itu sudah turun, berjongkok dengan satu lutut yang menapak tanah.
"Ikutlah denganku," kata pemuda itu membuat mata (y/n) membulat karena terkejut.
Tanpa menunggu kepastian, pemuda itu menarik tangan (y/n) yang lemas, lalu mengangkat tubuh rampingnya menaiki kuda putih itu dengan segera.
(y/n) hanya bisa termangu mendapati dirinya yang cukup tinggi dan kakinya sudah tidak lagi menapak tanah. Baru saja ia akan turun, tapi pemuda itu naik dan duduk cepat di belakangnya dengan kedua tangan yang mengurungnya sambil menarik tali kuda hingga detik berikutnya berjalan.
Disela ketakutan, (y/n) mencoba untuk bertanya lirih. "K-kita mau kemana?"
"Ke sebuah tempat dimana kau tidak akan menangis lagi," jawab pemuda itu.
(y/n) kagum. Ia sempat menoleh dan mendongak sebentar untuk menatap wajahnya. Garis rahang yang tegas, bibir penuh yang indah, hidung mancung bertulang tinggi, serta tatapan mata tajam membuat pemuda itu semakin berkarisma.
"Kau tidak akan menyakitiku, 'kan?" tanya (y/n) takut-takut.
"Tidak," jawabnya singkat. Pemuda itu lantas mempercepat lajuan kudanya hingga bunyi ketukan dari sepatu kuda terdengar nyaring dan cepat.
"A-aku takut...," (y/n) gelagapan.
Mendengar ucapan itu, sang pemuda merasa khawatir dan dengan cepat satu tangannya melepas tali, beralih melingkarkan tangan itu pada pinggang (y/n). "Ada aku," lirihnya di samping telinga.
Angin berhembus begitu cepat melawan gelapnya malam. Langit benar-benar tidak terlihat karena kuda yang dinaiki kini menerobos sebuah lorong pepohonan di dalam hutan. Suasana begitu sepi dan menyeramkan. Saking heningnya, suara ketukan sepatu kuda itu terdengar sangat-sangat nyaring dan memantul.
(y/n) memejamkan mata sementara tubuhnya bergetar ketakutan.
"Jangan takut. Kau akan baik-baik saja, (y/n)," ucap pemuda itu berusaha memberi ketenangan. Lingkaran tangannya semakin kuat takut gadis itu terjatuh atau apa.
"Beberapa saat lagi kau akan melihat keindahan yang luar biasa," lanjut sang pemuda.
Tak menunggu lama, pacuan kuda itu memelan bersamaan dengan datangnya cahaya yang menyilaukan sekalipun mata (y/n) masih terpejam. Dibukalah matanya secara perlahan... Dan ya, malam di dalam hutan yang mencekam itu telah berubah menjadi gumpalan awan putih laksana kapas yang bersemburat menari-nari di depannya. Hawanya sejuk namun hangat bercampur dengan aroma harum yang ia rasa adalah aroma tubuh dari pemuda di belakangnya.
"Kau lebih tenang?" tanya pemuda itu.
(y/n) mengangguk dan tersenyum perlahan. Jujur saja, selama bertahun-tahun ia baru tersenyum seindah ini satu kali.
"Teruslah tersenyum seperti itu meskipun kau sedang sedih. Menangis tidak akan menyelesaikan semuanya. Jadilah gadis yang kuat, hm? Perjalananmu masih panjang," pemuda tampan itu berhasil menemukan air mata (y/n) yang tersisa lantas mengusapnya.
"Semua orang benci pada-"
"Sstt! Lalu kalau semua orang benci padamu, kau harus ikut membenci diri sendiri dengan terus bersedih seperti itu? Tidak, 'kan? Jika bukan dirimu sendiri yang mencintai, maka siapa lagi?"
Gadis itu berpikir sejenak. "Kau sudah membuatku tenang. Apa itu berarti kau termasuk orang yang mencintaiku?"
Pemuda itu tersenyum manis meneduhkan. "Ya, aku mencintaimu. Tapi ingat, setelah ini kau akan kembali pada kenyataan. Jangan pernah bersedih lagi dan tunggu kedatanganku," ucapnya serius.
(y/n) mengernyit bingung.
"Sebagai pendamping hidupmu nanti," lanjut sang pemuda.
•end•

Komentar
Posting Komentar