Chapter 1 Yes, You're My Sunshine

Chanyeol dikenal sebagai siswa populer yang ada di sekolahnya. Jika siswa lainnya populer karena ketampanan, kepintaran, atau kekayaan saja, Chanyeol mempunyai ketiganya. Tidak, bahkan pemuda itu adalah sosok yang diseganiㅡkarena kepribadiannya yang baikㅡoleh siswa siswi lain di sekolahnya. Banyak guru yang menyebutnya sebagai siswa rajin dan teladan. Karena keunggulannya itulah, singkat kata Chanyeol di angkat sebagai ketua osis.

Aily adalah gadis yang baru saja memasuki sekolah barunya. Ia pendiam, mudah merasakan kesedihan begitu juga kebahagiaan. Ia akan menangis jika ada hal kecil yang menyinggung perasaan ataupun ada seseorang yang membentaknya, tapi ia juga akan tersenyum jika ada hal kecil yang datang menghampirinya. Sebut saja matahari, rembulan, bintang, bahkan embun di pucuk dedaunan pun, gadis itu akan merasa sangat bahagia hanya dengan melihatnya. Ya, sangat bahagia. Gadis itu akan mengamatinya lama-lama sambil tersenyum. Namun, diantara semua yang membuatnya bahagia, matahari adalah yang utama. Baginya, matahari itu luar biasa. Ia bisa menyinari bumi setiap hari, tanpa mencoba untuk mengingkari janjinya.

🌞🌞

Gadis itu sudah menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah selama dua hari. Hari ini, hari terakhir baginyaㅡdan peserta lainㅡuntuk mendapat tanda tangan dari senior yang merupakan anggota osis. Ada dua puluh lima tanda tangan yang harus dipenuhi, sementara Aily saat ini sudah mendapat dua puluh empat. Gadis itu merasa sedih. Ada satu baris nama yang belum tertandatangani di kertasnya, Park Chanyeol.

Kini, gadis itu sedang terduduk di teras ruang osis beserta peserta lainㅡyang sebagian besar adalah gadis sepertinya. Ya, karena bisa diketahui secara pasti bahwa peserta laki-laki akan sangat malas jika disuruh melakukan hal seperti ini.

"Kau tahu yang namanya Park Chanyeol?"

"Tidak."

"Aku bahkan tidak ingin mendapat tanda tangannya."

"Kau harus mendapatkannya, bodoh!"

"Kenapa dia sangat susah dicari?"

"Ah, kurasa dia sengaja melakukannya supaya kita kebingungan."

"Benar juga."

"Ya, aku malas berurusan dengan senior yang seperti itu. Merepotkan hidup saja."

"Kurasa dia sombong."

"Tapi banyak yang bilang, dia sangat tampan."

"Benarkah?"

Aily hanya terdiamㅡmendengarkan pembicaraan gadis sebayanya sambil menatapnya satu-satuㅡdan memeluk dua lembar kertas berstaples itu, lalu mengintip nama senior yang berada diurutan pertama, kemudian bergumam kecil seolah menganggapnya sebagai benda hidup. "Mengapa kau susah dicari, hm?" telujuknya menekan-nekan sebal tepat pada nama Park Chanyeol di sanaㅡbahkan titik yang ditekan terlihat kusut.

Gadis itu menghela napas karena lelah, hingga beberapa detik kemudian ia mendengar jeritan dari gadis-gadis yang berkerumun di depannya sambil sibuk menyiapkan kertas beserta pulpennya.

"Itu dia, Chanyeol-sunbae!"

Mereka berlarian ke arah pemuda yang baru satu detik ke luar dari pintu ruang osis. Riuh suara mulai terdengar tak karuan. Gadis itu berdiri, mencoba mendekat pada kerumunan yang membuat pusing itu.

Mereka berdesakan. Ada yang teriak minta didahulukan, ada yang mengulurkan kertas dengan paksa, lalu ada juga yang mendorong temannya demi mendekat pada pemuda yang kini berada di tengahㅡmembubuhkan tanda tangan dengan gerakan santaiㅡitu.

Aily kebingunan. Sejak tadi, ia tak bisa mendapat posisi yang lebih dekat dengan sang ketua osis. Gadis itu selalu terbelakang. Ia sesekali berteriak, tapi apa daya suara kecilnya itu tak akan terdengar. Ia hampir putus asa dan berniat pulang jika saja hati kecilnya tak merasa takut pada ancaman hukuman besok pagiㅡbagi peserta yang tidak mendapat tanda tangan lengkap.

Akhirnya, gadis itu melangkah sedikit menjauh dan kembali duduk di lantai teras. Ia memerhatikan gadis-gadis itu dengan wajah penuh penantian, penantian kapan mereka pulang.

Perlahan, jumlah mereka pun semakin menyusut bersamaan dengan matahari yang hampir tenggelam. Tersisa tiga, dua, kemudian satu, hingga gadis itu berdiri dengan sedikit berlari.

"C-Chanyeol-sunbae!"

Pemuda yang baru saja merasa legaㅡkarena ia bisa pulangㅡitu kini terlihat menoleh dengan enggan, "Ah, kau belum rupanya," ucapnya sambil meraih lembaran kertas yang diulurkan Aily. Ia memerhatikan lalu membalik kertas itu sebentar. "Woah, tinggal aku saja?" tanya pemuda itu dengan mata berbinar sekaligus kagum. Ya, sebanyak kertas yang ditandatanganinya tadi, hanya gadis itu yang tanda tangan pada kolom kertasnya hampir penuh.

Aily mengangguk tanpa melihatnya. Ia sebenarnya berpikir, mengapa orang ini tak kunjung memberinya tanda tangan?

"Oke, aku tidak akan memberimu tanda tangan sebelum kau menjawab pertanyaanku," Chanyeol menyembunyikan kertas itu dengan kedua tangan ke belakang punggungnya, berdiri tepat di depan Aily.

Gadis itu mengerjap pelan dengan mimik kebingungan. Ia juga terheran mengapa gilirannya dibuat lama seperti ini? Tidak tahukah ia jika ini sudah petang? Bahkan mereka berdua ada di lorong ruang osis yang terkesan menyeramkan sekarang.

"Siapa namaku?" tanya Chanyeol cepat.

"Park Chanyeol," jawab gadis itu tak kalah cepat.

"Bagaimana kau tau?" tanyanya kali ini dengan mulut yang berlagak dimajukan.

"Bu-bukannya sudah tertulis di situ?" balas gadis itu memelan. Tangannya menunjuk pada kertas yang dibawa Chanyeol.

Chanyeol terdiam satu detik. "Oh, iya," pemuda itu lantas berdeham untuk mengubur rasa malunya dan kembali menambahkan, "Oke. Sebutkan nama, umur, keahlian, dan satu lagi, nama pacarmu."

Gadis itu tak bisa menolaknya. Ia sedikit takut dengan pertanyaan seniornya yang terkesan mengintimidasi itu. "Namaku Aily, umurku enam belas tahun, keahlian...," ia berpikir sambil mengarahkan bola matanya ke arah kiri atas.

"Cepat!"

Gertakan Chanyeol membuat gadis itu berpikir sedikit keras. "Ah, aku bisa membuat puisi," ia tersenyum kecil, berharap bisa meredakan ekspresi marah Chanyeol yang padahal dibuat-buat.

"Lalu? Kau belum menjawab satu pertanyaan lagi."

Sial. Gadis itu tak bisa menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya, takut. Bagaimana bisa menjawab bahkan punya kenalan seorang laki-laki pun tidak?

"Hey, kau tidak mendengarku?!"

"A-aku tidak punya pacar."

"Oke. Memang lebih baik gadis kecil sepertimu tidak punya pacar. Kau tau? Punya pacar di masa muda akan memperkeruh masa depan," nasehat Chanyeol terdengar sok bijak sambil menggerakkan pulpen pada kolom kosong itu dengan cepatㅡmembuat gadis di hadapannya mengangguk kecil pertanda menyetujui dan tak lupa mata beningnya memerhatikan ujung pulpen yang Chanyeol gerakkan.

"Bagus. Tugasmu sudah selesai. Kau boleh pulang," pemuda itu segera berbalik setelah mengembalikan lembaran ke tangan Aily. Ia berjalan menjauh sementara gadis itu terlihat ragu antara ingin memanggilnya atau tidak.

"Tu-tunggu, Chanyeol-sunbae...," panggil gadis itu akhirnya. "Bisakah a-aku berjalan di samping sunbae?"

Beberapa detik berlalu. Keduanya terlihat berpikir. Chanyeol yang awalnya sedikit terkejut, dan Aily yang menunggu jawaban dengan rasa takut.

"Tentu saja. Aku akan melindungi siapapun yang merasa takut," jawabnya sambil menghentikan langkah, sementara Aily segera berlari menghampirinya dengan perasaan lega.

Gadis itu berjalan sejajar dengan Chanyeol di sepanjang lorong yang gelap. Tidak tau mengapa, ia merasa bahwa tubuhnya memanas. Ia melihat pemuda itu tersenyum di antara lampu yang remang-remang. Tidak ada perbincangan diantara keduanya.

Aily merasa ada hal aneh yang membuat dadanya berdebar. Ia tidak mengerti apa maksudnya. Yang jelas, rasa bahagianya hampir sama ketika ia melihat matahari yang bersinar cerah di pagi hari. Bahkan jika gadis itu tak segan untuk mengakui, kebahagiannya lebih besar saat ini.

Mereka berpisah di gerbang sekolah. Setelah pemuda itu pergi, Aily masih berdiri di sana. Selanjutnya ia mencoba melihat tanda tangan yang terakhir kali didapatkannya. Gadis itu tersenyum. Tanda tangannya lucu, hingga membuat kedua sudut bibirnya terangkat. "Sayangnya, kau harus kukumpulkan besok. Aku tidak akan bisa melihatmu lagi," ucapnya dengan wajah cemberut.

Detik berikutnya, senyum gadis itu mengembang. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku, lalu memotret tanda tangan itu. "Kau tenang saja, aku akan mengabadikanmu di sini," ucapnya sambil mengelus tanda tangan di layar ponsel.

Gadis itu tersenyum lagi. Dalam hatinya mulai berandai, bagaimana jika ia menyebutnya sebagai matahari?

Ya, matahari yang indah,

matahari yang membuatnya bahagia, dan

matahari yang ia rasa, telah membuatnya jatuh cinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chanyeol x Sehun - We Young Lyrics

Chapter 4 My Star Garden; New Friend?

Imaginary Night (Chanyeol Imagine)