Chapter 2 Yes, You're My Sunshine
Sudah siang. Kini seorang gadis manis sedang tersenyum di lapangan belakang sekolah. Ia melihat dengan mata yang berbinar ke arah sesuatu yang menurutnya sangat cerah. Matahari.
Semua peserta berhamburan di lapangan. Masih saling bergurau dan sebagian ada yang berlarian mencari tanda tangan. Ya, itu bagi mereka yang tidak memenuhi tanggung jawab pada hari sebelumnya sehingga di hari pengumpulan pun mereka harus kerepotan.
Chanyeol sedang berdiri di sana. Ia terlihat berbicara dengan anggota osis lain. Wajahnya tampak serius karena memang ia lah penanggung jawab kegiatan ini. Pemuda itu tampak panik sambil mengusap wajahnya beberapa kali. Ia juga sesekali berlari ke sana ke mari untuk menyiapkan sesuatu.
Aily masih terpaku pada pemandangan itu dan mengikuti kemana arahnya pergi. Baginya, saat ini sangat sempurna. Ya, ada matahari disinari matahari, itu yang dipikirnya sekarang. Chanyeol terlihat tampan. Wajahnya tampak berkilat-kilat terkena sinar matahari. Gadis itu bahkan heran. Dalam kondisi bingung pun matahari-nya masih terlihat tampan. Benar-benar tampan.
"Untuk siswa baru segera berbaris di lapangan, sekarang!"
Gadis itu terkesiap. Salah satu senior memberi pengumuman dengan nada tidak santai hingga peserta yang awalnya berhamburan kini cepat-cepat mengatur diri. Mereka semakin cepat berlari mencari barisan. Bukannya mendapat barisan, Aily justru kebingungan. Namun, beberapa detik setelahnya gadis itu berhasilㅡmeskipun tubuhnya hampir terjatuh karena siswa laki-laki yang menerobos. Ia sangat lega.
Upacara pembukaan pun kini dimulai dan tak ada suara sedikit pun. Setelah proses upacara pembukaan selesai, dada gadis itu kembali berdebar. Tidak. Ini lebih berdebar dari pada sore itu. Debarannya semakin menjadi. Kakinya sesekali berjinjit karena banyak kepala yang menghalangi penglihatannya pada sosok itu. Kedua mata hitamnya terasa semakin lebar ketika sosok yang dilihat berjalan menaiki mimbar. Gadis itu tersadar, bukan hanya dirinya yang merasa takjub, melainkan gadis lainnya juga menatap dengan tatapan yang sama sepertinya.
Chanyeol mengetuk mic beberapa kali sebelum akhirnya berdeham. Sungguh. Celana abu-abu panjang yang membalut kaki jenjangnya itu memberi kesan tegas. Terlebih, blazer dengan warna senada yang memperlihatkan sebagian kemeja putih lengkap dengan dasi hitam itu juga menambah kewibawaanya. Ya, tubuh tinggi itu tampak sempurna. Lamunan Aily semakin dalam ketika pemuda itu menyibakkan anak rambut di dahinya ke belakang, menggunakan tangannya yang lumayanㅡsedikitㅡkekar.
Sebagian peserta kini banyak yang riuh. Ya, hanya Aily yang tidak. Gadis itu masih tak melepas pandangannya untuk melihat gerak-gerik pemuda yang ada di atas mimbar. Bahkan ia tau, detik ini Chanyeol sedang menggaruk telinganya yang gatal.
Chanyeol memerhatikan ratusan siswa yang ada di depannyaㅡyang diperhatikan tidak merasa sama sekali kecuali gadis itu. "Bisa diam atau tidak?!"
Suara berat Chanyeol menginterupsi, membuat semua terdiam dan menunduk. Aily juga menunduk. Bukan, bukannya takut karena bentakan itu. Ia tidak lebih memperdulikannya. Yang ia pikirkan justru bagaimana suara indah itu bisa sampai ke telinganya, dan bagaimana bisa ia sangat menyukai suara itu.
"Kalian tau, kan? Kalian sudah bukan anak kecil. Tidak bisakah kalian membuang kebiasaan buruk di masa menengah pertama? Kalian sudah dewasa!"
Suasana kembali menciut. Mereka semua menunduk, ada juga yang mencibir pada teman yang lain. Aily diam saja meskipun hatinya tersenyum kecil.
"Dengan sikap yang dewasa kalian harus bisa menghargai. Termasuk menghargai orang yang sedang berbicara di depan kalian," Chanyeol kini menatap para juniornya penuh arti. "Mengerti?!"
"Mengerti," jawab mereka secara serentak.
Chanyeol menuruni mimbar, membuat pandangan Aily sedikit bingung mengikuti arah perginya. Setelah Chanyeol turun, seseorang yang tingginya hampir samaㅡnamun tidak lebih tampanㅡseperti Chanyeol kini mengambil alih.
"Baiklah. Sekarang kumpulkan tugas kalian ke depan. Dalam hitungan sepuluh, kalian harus sudah mengumpulkan kertas itu dan kembali ke barisan. Mulai sekarang."
Titahnya membuat mereka berhambur menuju tas masing-masing yang berada di tribun lapangan. Aily mulai membuka ritsleting tas, berniat untuk mengambil kertasnya. Namun, jantungnya terasa berhenti berdetak setelah mengetahui bahwa kertas yang dicarinya itu tidak ada. Tangannya terus bergerak cepat. Bahkan saat hitungan sudah sampai pada angka enam, gadis itu masih berusaha mencari bahkan mengeluarkan semua isi tasnya.
Hitungan pun sudah berakhir. Dengan perasaan takut, gadis itu kembali ke barisan tanpa membawa apa-apa padahal yang lain sudah mengumpulkan kertasnya.
"Siapa yang merasa belum?" tanya senior itu membuat Aily semakin takut. Ia tak tau sudah berapa butir keringat yang kini menetes dari pelipisnya.
Ya Tuhan, sekarang gadis itu tersadar mengapa ia tak menemukan kertasnya. Benar, kertas itu tertinggal karena semalam ia tak henti-hentinya memerhatikan tanda tangan itu sehingga keesokan harinya tidak terbawa dan masih berada di samping bantal.
"Aku tanya sekali lagi siapa yang belum?!"
Pertanyaan kali ini membentak hingga dengan kesadaran atau tidak, gadis itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi tanpa berpikirㅡmeskipun dalam hatinya sangat takut.
Senior itu berhasil melihat gerakan tangan seorang gadis yang tampak ragu-ragu terangkat.
"Kemari."
Gadis itu sangat terkejut. Tangannya menurun pelan. Dadanya seperti terhantam sesuatu yang sangat berat. Ia masih berdiri di tempat.
"Kemari," pinta senior itu satu kali lagi.
Dengan terpaksa dan menahan rasa takut mati-matian, gadis itu berjalan keluar barisan menuju ke depan sambil mencengkeram roknya kuat-kuat. Pandangannya tetap menunduk bahkan ia hanya melihat bayangannya yang berada di atas kepala.
Aily tidak terbiasa berada di depan dan diperhatikan banyak orang seperti ini. Ia sangat malu terlebih hanya dirinya saja yang berada di sini.
"S-sunbae, sebenarnya tugasku sudah selesai..., ta-tapi aku meninggalkannya di rumah...," gadis itu mencoba menjelaskan dengan gugup. Pemuda berwajah dinginㅡbahkan terkesan jahat bagi Ailyㅡtengah menatapnya dengan tajam.
Pemuda itu kini berdecak dan menyilangkan kedua tangan. "Aku tidak percaya. Katakan saja bahwa kau sengaja meninggalkan karena tanda tanganmu belum penuh, kan?"
"Seorang pencuri tidak akan mengaku sebagai pencuri," tambah senior lain kini ikut berdiri di depan Aily.
Gadis itu sibuk meremas sisi rok seragamnya sebagai pengalih rasa gugup. Ia tidak suka orang lain menebak keburukan seperti ini. Ia tidak salah. Ia sudah memenuhi tugasnya dengan baik. Namun, bagaimana pun juga gadis itu masih tetap gugup untuk sekedar menjelaskan kebenaran. "A-aku tidak berbohong. Kalau s-sunbae tidak percaya, sunbae bisa menanyakannya pada Chanyeol-"
Pemuda itu tertawa remeh sebelum Aily melanjutkan ucapannyaㅡbahkan mereka yang berbaris ikut tertawa kecil mendengar penjelasan Aily. "Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kau pikir Chanyeol akan mengingat wajahmu?"
"Bukan seperti itu..., a-aku...,"
"Turun."
Satu kata itu cukup membuat Aily refleks memejamkan mata. "Aku tidak salah, sun-"
"Aku bilang turun!"
Mendengar perintah itu, Aily seketika mengatupkan bibirnya. Matanya memanas. Gadis itu merapikan roknya sebentar sebelum akhirnya berjongkok pelanㅡbersamaan dengan kakinya yang diluruskan ke belakangㅡdan mendaratkan telapak tangannya pada ubin lapangan yang panas. Ya, sangat panas karena sinar matahari begitu terik jika sudah sesiang ini. Tangan kecil itu sesekali bergerak membenarkan posisiㅡmencoba bergerak dengan posisi apapun sama saja akan terasa panas. Air mata gadis itu meluncur mulus dari pipinya hingga menetes di lantai kering sebelah tangannya. Rambutnya yang tergerai itu berjatuhan di sisi wajahnya, menciptakan rasa gerah yang luar biasa.
"Satu!"
"S-satu!" Aily menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tubuh sekuat tenaga dengan bertumpu pada kedua tangan. Ia meringis menahan tangannya yang terasa panas. Dalam hatinya sempat bertanya. Dimana Chanyeol-sunbae?
"Dua!"
Aily mengulangi.
"Tiga!"
Gadis itu mulai terengah dan ia merasa tak kuat lagi untuk melanjutkan, tapi ia diam saja.
"Empat!"
Aily baru saja akan mengulangi, tapi tangan kanannya kini ditarik seseorang hingga membuatnya secepat kilat kembali berdiri. Gadis itu hampir jatuh pada tubuh pemuda tinggi yang menolongnya. Ia sedikit pusing. Tubuhnya sangat lemas, begitu pula tangannya. Telapak tangannya terasa sakit hingga membuat gadis itu sesekali mengibaskannya.
"Bagaimana bisa kau tega melakukannya?!" tanya pemuda yang baru tiba itu dengan nada tak terima.
Suasana menjadi riuh tak terkendali. Mereka terheran dan sibuk berkomentar pada kejadian di depan saat ini. Bisa dibilang, barisan yang sudah diatur sedemikian rupa kini bubar dengan sendirinya.
Aily masih terdiam diantara tangis. Sementara Chanyeol memegang lengan dan menarik tubuh gadis itu di dekatnya.
"Dia tidak mengerjakan tugas dengan baik," jawab salah satu pemuda yang kini menghampiri mereka bersama anggota osis lainnya. Sementara yang menghukum Aily, ia masih enggan menjawab pertanyaan Chanyeol dan malah memandang sebal ke arah lain.
"Tidak mengerjakan tugas dengan baik? Lalu apa dengan hukuman seperti ini bisa membuatnya lebih baik?"
"Kau tau kan, siapa pun yang berada di sini harus disiplin? Aku hanya menyuruhnya push up apa itu berlebihan?" tak diam lagi, pemuda itu akhirnya membela diri.
"Hanya? Dia kesakitan dan menangis! Kau bisa melihatnya, kan?" Chanyeol menunjukkan tangan Aily yang kini memerah. "Aku tau sendiri bahwa gadis ini sudah menyelesaikan tugas. Dia tidak berbohong."
Gadis yang menahan rasa sakitnya itu kagum detik ini juga. Chanyeol. Berkata seperti itu demi dirinya. Dengan perasaan melamun, Aily kembali ditarik Chanyeol untuk keluar dari lapangan. Lagi-lagi gadis itu kesulitan berpikir saat melihat pergelangan tangannya. Digenggam matahari-nya.
Kini gadis itu tau bahwa Chanyeol akan membawanya ke UKS, sehingga dengan cepat ia berkata, "C-Chanyeol-sunbae tidak perlu membawaku ke UKS. Aku ba-baik-"
"Ikuti saja," jawabnya singkat, sementara tangannya masih tetap memegang erat pergelangan tangan seorang gadis yang kini mengikuti langkahnya di belakang.
Gadis itu tersenyum kecil melihat wajah sang ketua osis khawatir. Ya, ia tau rasa khawatir itu bukan semata-mata untuk dirinya, melainkan rasa khawatir karena ia merasa bertanggung jawab atas semuanya. Sebatas itu. Kendati demikian, ia tetap merasa senang.
Hari ini, gadis itu mendapatkan hal luar biasa dari sang matahari. Ya, matahari selalu menyinari salah satu sisi bumi secara bergantian, dimana semua itu butuh keadilan. Sama halnya dengan matahari yang berjalan menariknya saat ini. Gadis itu sangat berterimakasih. Matahari itu telah menariknya, membelanya, dan telah menyelamatkan tangannya yang mungkin sebentar lagi akan melepuh.
Kini keduanya berdiri di depan pintu UKS.
"Te-terimakasih, Chanyeol-sunbae."
"Itu sudah kewajibanku," pemuda itu tersenyum tipis lalu memerhatikan arlojinya sebentar. "Aku akan ke belakang lagi. Kau istirahatlah dulu di sini," ucap Chanyeol sebelum akhirnya meninggalkan Aily.
Gadis itu tersenyum sambil menyentuh pergelangan tangannya.
Ia rasa, tak akan ada hari buruk asalkan matahari itu berada di sampingnya.
Matahari-nya baik,
Ya, sangat baik.
Komentar
Posting Komentar