Chapter 4 Yes, You're My Sunshine
Gadis itu terengah-engah setelah sampai di kelasnya. Ia bersumpah. Sepanjang pelajaran olahraga pun ia tak pernah berkeringat sebanyak ini. Bayangkan saja, berlari ketakutan menaiki banyak tangga hingga sampai ke lantai tiga.
Sungguh hal yang luar biasa.
Ia terduduk di bangkunya dengan tangan berkeringat sekaligus bergetar. Pikirannya kosong, takut jika Chanyeol mengenalinya.
Gadis itu bahkan teringat. Saat kecil dulu ia selalu penasaran bagaimana rasanya jatuh cinta. Namun, mengapa karena hal seperti ini ia merasa takut? Ia takut jika matahari yang dikagumi itu tidak menerima perasaannya, atau bahkan menolaknya mentah-mentah. Pasti itu akan terasa sakit, bukan?
Meskipun Aily merasa ada hal aneh yang mengganjal dipikirannya, ia tak menceritakan kepada siapa pun. Hanya dirinya dan matahari yang tau perasaannya. Perasaan cintanya pada Park Chanyeol, matahari yang mungkin hangat baginya, tapi bisa saja menyengat sewaktu-waktu.
Sepulang sekolah, Aily cepat-cepat menuruni tangga. Ia ingin lekas pulang dan membeli susu kotak rasa pisang di supermarket. Ya, jangan heran. Gadis itu akan tetap melakukannya besok pagi atau jika perlu ia akan datang lebih pagi lagi asalkan bisa memberikan benda itu pada matahari-nya.
Baru akan turun, pandangan Aily berhasil menemukan sebuah earphone berwarna putih yang tergeletak di pojok birai tangga. Dahinya mengernyit. Gadis itu sempat berpikir ingin mengambil tetapi ia urungkan. Lagipula, ia mungkin saja tak bisa menemukan siapa pemiliknya.
Kakinya terus melangkah menuruni tangga yang berbelok-belok hingga akhirnya kini sudah sampai di lantai dasar. Dan ya, ia menganggap sebuah kebetulan atau tidak, di sengaja atau tidak, takdir atau tidak, ia kembali bertemu dengan Park Chanyeol. Pemuda itu tidak melihatnya. Ia berdiri di bawah pohon sambil mencari sesuatu dari dalam tas ransel hitamnya.
Aily mencoba mendekată…ˇlebih tepatnya berdiri di balik pohonă…ˇsambil memerhatikan pemuda itu penuh tanda tanya.
"Kemana earphone-ku pergi?" Chanyeol bergumam lirih.
Sontak, gadis itu teringat sesuatu yang ada di pojok sebelah tangga. Dengan langkah hati-hati, ia menjauhi Chanyeol dan sesegera mungkin mempercepat langkahnya.
Entah mendapat kekuatan darimana, Aily berlari menaiki tangga lagi. Tangga yang menanjak, tangga yang jumlahnya banyak, dan tangga yang berbelok-belok. Dengan peluh keringat, gadis itu menahan kakinya yang sedikit pegal hingga ia berhasil naik ke lantai tiga, lalu mengambil earphone yang masih tergeletak di sana.
Aily berjongkok sebentar, mengatur napasnya hingga kemudian berdiri. Dari atas, dilihatnya Chanyeol yang mulai berjalan menjauh. Tidak. Ia harus berhasil memberikan benda ini. Chanyeol tidak boleh pulang.
Gadis itu pun mempercepat langkahnya menuruni tangga. Ia tetap melangkahkan kaki meskipun ia merasa tak kuat lagi menopang tubuhnya. Tak tahan lagi, gadis itu kini berlari. Langkahnya semakin cepat dan cepat hingga perlahan membunuh jarak di antara keduanya.
"Chanyeol-sunbae!" panggilnya dengan napas terengah-engah.
Pemuda itu menoleh dengan tatapan heran, melihat gadis yang berlari ke arahnya.
"S-sunbae..., i-ini..., a-aku mene-mukan ini...," Aily memejamkan matanya berulang kali karena dadanya yang jika dibuat berdiri menjadi semakin sesak. Ia terlalu lelah.
Tidak menerima earphone-nya, Chanyeol malah menatap wajah gadis itu lebih dekat dengan mata hitam pekatnya, memerhatikan setiap keringat yang masih menetes dari sana. "K-kau habis berlari?"
Aily mengangguk cepat dua kali sebelum akhirnya berjongkok memegangi lututya. "Earphone mi-milik sunbae jatuh di lantai ti-tiga, la-lalu aku tidak sengaja melihat s-sunbae mencari sesuatu jadi a-aku pikir sunbae-"
"Jika kau tau earphone-ku terjatuh di sana, mengapa tidak memberitahuku saja? Aku bisa mengambilnya sendiri," jawab Chanyeol yang kini tersenyum seraya mengikuti gadis itu berjongkok. Mereka berhadapan.
"Aku ha-hanya ingin membantu orang lain," Aily menunduk. Sebenarnya ia berusaha menjawab yang sekiranya mengundang perbincangan panjang, tapi gadis itu tidak tau bagaimana caranya. Ia sedih. Pasti sebentar lagi Chanyeol akan segera pergi meninggalkannya.
"Kurasa kau gadis baik," pujian Chanyeol membuat Aily merasakan dentuman satu kali di dadanya. "Ah, jangan berjongkok di sini. Bagaimana kalau kita duduk di sana? Kau terlihat lelah," lanjutnya sambil menunjuk ke arah pohon, kemudian berdiri. Aily masih mematung.
Gadis itu menoleh pelan ke arah Chanyeol yang sudah duduk di bawah pohon. Ia berpikir, haruskah ia duduk di sana?
Tetap berjongkok, Aily mengangkat kakinya secara bergantiană…ˇlebih tepatnya jalan jongkokă…ˇlalu duduk di sebelah Chanyeol dengan perasaan tak karuan.
"Bagaimana tanganmu?"
Aily sedikit terkejut dan berpikir. "Tanganku baik-baik saja," jawabnya tanpa melihat yang bertanya.
Chanyeol memerhatikan gadis yang kini menunduk di sebelahnya. Jika ia tak mengajaknya berbicara, gadis itu diam saja. Bahkan saat ia mencoba mengajaknya berbicara, gadis itu tak mau melihat ke arahnya.
"Apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Chanyeol penasaran.
"Tidak," jawabnya pelan, bahkan pemuda di sampingnya hampir tak bisa mendengar jawaban itu.
"Kau mau aku pergi?" tanya Chanyeol lagi.
Gadis itu menggeleng cepat berulang kali seolah takut kehilangan Chanyeol.
Chanyeol sangat terkejut melihat reaksinyaă…ˇmeskipun tidak ia tunjukkan.
"Kalau begitu, kau tidak ingin berbicara denganku?" lagi-lagi Chanyeol bertanya.
"Aku ingin mengajak Chanyeol-sunbae berbicara, tapi aku tidak tau harus membicarakan apa," jawab gadis itu memelan dan hampir tidak bernada.
"Mengapa bicaramu pelan sekali?"
"A-aku memang seperti ini."
Entah mengapa, Chanyeol tersenyum.
"Umm..., apa kau selalu menunduk saat berbicara dengan orang lain?"
Aily menggeleng dengan wajah polosnya yang masih saja menunduk. "Tidak," Aku akan menunduk jika sunbae yang mengajakku bicara.
"Lalu? Kau tidak mau melihat lawan bicaramu?"
Pertanyaan itu membuat Aily ragu antara ingin melihat Chanyeol atau tidak. Bagaimana jika Chanyeol tau dari tatapan matanya jika ia mencintainya? Meskipun sebenarnya gadis itu tidak tau hal seperti ini bisa diketahui atau tidak.
Akhirnya, Aily memberanikan diri untuk melihatnya. Wajahnya terangkat dan sedikit menoleh. Sepersekian detik, mata keduanya bertemu. Chanyeol lantas tersenyum.
Gadis itu terdiam tak bisa menjelaskan apapun. Ada banyak alasan mengapa ia seperti itu. Pertama, wajah Chanyeol terlihat lebih tampan saat dilihat dari dekat. Kedua, mata besarnya terlihat berkilat. Tidak. Tidak hanya berkilat. Bahkan gadis itu berpikir jika ia tak berhenti menatapnya mungkin akan tersesat di dalam sana. Ketiga, hidung mancung dan besarnya itu ternyata ada bintik kecil yang sangat lucu. Keempat, ia sangat kagum dengan senyuman itu. Senyuman yang secerah matahari.
"Halo?" Chanyeol melambaikan tangan di depan wajah Aily.
Gadis itu terkesiap. Ia merasa pipinya terbakar. Bagaimana ia tak berhenti memerhatikan sosok itu jika mereka berdekatan seperti ini?
"Ma-maaf," Aily menunduk lagi.
"Tidak-tidak, maksudku tidak seperti itu," Chanyeol merasa tidak enak hati padanya. Sebelum gadis itu merasa lebih tidak nyaman lagi, Chanyeol menambahkan, "Oh iya, kau belum memberikan earphone-ku."
Gadis itu seketika tersadar. "Ini...," jawabnya ragu sementara tangannya terulur memberikan earphone itu dengan bergetar.
"Terimakasih, gadis kecil," balas pemuda itu bersamaan dengan tangannya yang mengelus rambut Aily pelan dan detik berikutnya berdiri.
"Makanlah dengan baik, kurasa tubuhmu terlalu kecil untuk ukuran anak tingkat satu," ucap Chanyeol terakhir kali sebelum pergi sambil menyeringai.
Aily terdiam. Tidak. Gadis itu tidak sakit hati dengan ucapan terakhirnya yang mengatakan dirinya kecil. Bahkan berpikir untuk kesal pun tidak ada. Ia terlalu bahagia dan tidak percaya dengan panggilan itu.
Gadis kecil.
Ah, tidak-tidak. Ada satu lagi, sentuhan itu. Chanyeol menyentuh rambutnya dengan lembut. Ya, lembut dan sangat hangat. Sial. Mengapa gadis itu berpikiran ingin bergulung-gulung di sini?
Aily masih berusaha berpikir tentang kejadian sore ini. Orang lain mungkin menganggap ini pertemuan biasa yang tidak berarti sama sekaliă…ˇChanyeol pun mungkin juga merasa demikian. Tapi mengapa gadis itu sangat bahagia hingga suhu tubuhnya menghangat? Ya, meskipun ia mengakui tubuhnya memang beku saat di dekatnya. Benar-benar merumitkan.
Dengan semangat sebesar energi matahari, Aily berdiri. Ini terasa aneh. Rasa lelah yang sempat menjalar di kakinya kini menghilang entah kemana. Dan yang lebih aneh lagi, perasaan hangat yang sempat mendiami hatinya kini perlahan mulai mendingin seiring dengan matahari-nya yang menjauh. Matahari-nya terbenam.
Gadis itu semakin sadar. Keberadaan matahari memiliki arti dalam hidupnya. Ia berharap, matahari-nya tidak akan pergi terlalu jauh. Ya, ia takut jika hatinya kedinginan.
Sungguh hal yang luar biasa.
Ia terduduk di bangkunya dengan tangan berkeringat sekaligus bergetar. Pikirannya kosong, takut jika Chanyeol mengenalinya.
Gadis itu bahkan teringat. Saat kecil dulu ia selalu penasaran bagaimana rasanya jatuh cinta. Namun, mengapa karena hal seperti ini ia merasa takut? Ia takut jika matahari yang dikagumi itu tidak menerima perasaannya, atau bahkan menolaknya mentah-mentah. Pasti itu akan terasa sakit, bukan?
Meskipun Aily merasa ada hal aneh yang mengganjal dipikirannya, ia tak menceritakan kepada siapa pun. Hanya dirinya dan matahari yang tau perasaannya. Perasaan cintanya pada Park Chanyeol, matahari yang mungkin hangat baginya, tapi bisa saja menyengat sewaktu-waktu.
🌞🌞
Sepulang sekolah, Aily cepat-cepat menuruni tangga. Ia ingin lekas pulang dan membeli susu kotak rasa pisang di supermarket. Ya, jangan heran. Gadis itu akan tetap melakukannya besok pagi atau jika perlu ia akan datang lebih pagi lagi asalkan bisa memberikan benda itu pada matahari-nya.
Baru akan turun, pandangan Aily berhasil menemukan sebuah earphone berwarna putih yang tergeletak di pojok birai tangga. Dahinya mengernyit. Gadis itu sempat berpikir ingin mengambil tetapi ia urungkan. Lagipula, ia mungkin saja tak bisa menemukan siapa pemiliknya.
Kakinya terus melangkah menuruni tangga yang berbelok-belok hingga akhirnya kini sudah sampai di lantai dasar. Dan ya, ia menganggap sebuah kebetulan atau tidak, di sengaja atau tidak, takdir atau tidak, ia kembali bertemu dengan Park Chanyeol. Pemuda itu tidak melihatnya. Ia berdiri di bawah pohon sambil mencari sesuatu dari dalam tas ransel hitamnya.
Aily mencoba mendekată…ˇlebih tepatnya berdiri di balik pohonă…ˇsambil memerhatikan pemuda itu penuh tanda tanya.
"Kemana earphone-ku pergi?" Chanyeol bergumam lirih.
Sontak, gadis itu teringat sesuatu yang ada di pojok sebelah tangga. Dengan langkah hati-hati, ia menjauhi Chanyeol dan sesegera mungkin mempercepat langkahnya.
Entah mendapat kekuatan darimana, Aily berlari menaiki tangga lagi. Tangga yang menanjak, tangga yang jumlahnya banyak, dan tangga yang berbelok-belok. Dengan peluh keringat, gadis itu menahan kakinya yang sedikit pegal hingga ia berhasil naik ke lantai tiga, lalu mengambil earphone yang masih tergeletak di sana.
Aily berjongkok sebentar, mengatur napasnya hingga kemudian berdiri. Dari atas, dilihatnya Chanyeol yang mulai berjalan menjauh. Tidak. Ia harus berhasil memberikan benda ini. Chanyeol tidak boleh pulang.
Gadis itu pun mempercepat langkahnya menuruni tangga. Ia tetap melangkahkan kaki meskipun ia merasa tak kuat lagi menopang tubuhnya. Tak tahan lagi, gadis itu kini berlari. Langkahnya semakin cepat dan cepat hingga perlahan membunuh jarak di antara keduanya.
"Chanyeol-sunbae!" panggilnya dengan napas terengah-engah.
Pemuda itu menoleh dengan tatapan heran, melihat gadis yang berlari ke arahnya.
"S-sunbae..., i-ini..., a-aku mene-mukan ini...," Aily memejamkan matanya berulang kali karena dadanya yang jika dibuat berdiri menjadi semakin sesak. Ia terlalu lelah.
Tidak menerima earphone-nya, Chanyeol malah menatap wajah gadis itu lebih dekat dengan mata hitam pekatnya, memerhatikan setiap keringat yang masih menetes dari sana. "K-kau habis berlari?"
Aily mengangguk cepat dua kali sebelum akhirnya berjongkok memegangi lututya. "Earphone mi-milik sunbae jatuh di lantai ti-tiga, la-lalu aku tidak sengaja melihat s-sunbae mencari sesuatu jadi a-aku pikir sunbae-"
"Jika kau tau earphone-ku terjatuh di sana, mengapa tidak memberitahuku saja? Aku bisa mengambilnya sendiri," jawab Chanyeol yang kini tersenyum seraya mengikuti gadis itu berjongkok. Mereka berhadapan.
"Aku ha-hanya ingin membantu orang lain," Aily menunduk. Sebenarnya ia berusaha menjawab yang sekiranya mengundang perbincangan panjang, tapi gadis itu tidak tau bagaimana caranya. Ia sedih. Pasti sebentar lagi Chanyeol akan segera pergi meninggalkannya.
"Kurasa kau gadis baik," pujian Chanyeol membuat Aily merasakan dentuman satu kali di dadanya. "Ah, jangan berjongkok di sini. Bagaimana kalau kita duduk di sana? Kau terlihat lelah," lanjutnya sambil menunjuk ke arah pohon, kemudian berdiri. Aily masih mematung.
Gadis itu menoleh pelan ke arah Chanyeol yang sudah duduk di bawah pohon. Ia berpikir, haruskah ia duduk di sana?
Tetap berjongkok, Aily mengangkat kakinya secara bergantiană…ˇlebih tepatnya jalan jongkokă…ˇlalu duduk di sebelah Chanyeol dengan perasaan tak karuan.
"Bagaimana tanganmu?"
Aily sedikit terkejut dan berpikir. "Tanganku baik-baik saja," jawabnya tanpa melihat yang bertanya.
Chanyeol memerhatikan gadis yang kini menunduk di sebelahnya. Jika ia tak mengajaknya berbicara, gadis itu diam saja. Bahkan saat ia mencoba mengajaknya berbicara, gadis itu tak mau melihat ke arahnya.
"Apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Chanyeol penasaran.
"Tidak," jawabnya pelan, bahkan pemuda di sampingnya hampir tak bisa mendengar jawaban itu.
"Kau mau aku pergi?" tanya Chanyeol lagi.
Gadis itu menggeleng cepat berulang kali seolah takut kehilangan Chanyeol.
Chanyeol sangat terkejut melihat reaksinyaă…ˇmeskipun tidak ia tunjukkan.
"Kalau begitu, kau tidak ingin berbicara denganku?" lagi-lagi Chanyeol bertanya.
"Aku ingin mengajak Chanyeol-sunbae berbicara, tapi aku tidak tau harus membicarakan apa," jawab gadis itu memelan dan hampir tidak bernada.
"Mengapa bicaramu pelan sekali?"
"A-aku memang seperti ini."
Entah mengapa, Chanyeol tersenyum.
"Umm..., apa kau selalu menunduk saat berbicara dengan orang lain?"
Aily menggeleng dengan wajah polosnya yang masih saja menunduk. "Tidak," Aku akan menunduk jika sunbae yang mengajakku bicara.
"Lalu? Kau tidak mau melihat lawan bicaramu?"
Pertanyaan itu membuat Aily ragu antara ingin melihat Chanyeol atau tidak. Bagaimana jika Chanyeol tau dari tatapan matanya jika ia mencintainya? Meskipun sebenarnya gadis itu tidak tau hal seperti ini bisa diketahui atau tidak.
Akhirnya, Aily memberanikan diri untuk melihatnya. Wajahnya terangkat dan sedikit menoleh. Sepersekian detik, mata keduanya bertemu. Chanyeol lantas tersenyum.
Gadis itu terdiam tak bisa menjelaskan apapun. Ada banyak alasan mengapa ia seperti itu. Pertama, wajah Chanyeol terlihat lebih tampan saat dilihat dari dekat. Kedua, mata besarnya terlihat berkilat. Tidak. Tidak hanya berkilat. Bahkan gadis itu berpikir jika ia tak berhenti menatapnya mungkin akan tersesat di dalam sana. Ketiga, hidung mancung dan besarnya itu ternyata ada bintik kecil yang sangat lucu. Keempat, ia sangat kagum dengan senyuman itu. Senyuman yang secerah matahari.
"Halo?" Chanyeol melambaikan tangan di depan wajah Aily.
Gadis itu terkesiap. Ia merasa pipinya terbakar. Bagaimana ia tak berhenti memerhatikan sosok itu jika mereka berdekatan seperti ini?
"Ma-maaf," Aily menunduk lagi.
"Tidak-tidak, maksudku tidak seperti itu," Chanyeol merasa tidak enak hati padanya. Sebelum gadis itu merasa lebih tidak nyaman lagi, Chanyeol menambahkan, "Oh iya, kau belum memberikan earphone-ku."
Gadis itu seketika tersadar. "Ini...," jawabnya ragu sementara tangannya terulur memberikan earphone itu dengan bergetar.
"Terimakasih, gadis kecil," balas pemuda itu bersamaan dengan tangannya yang mengelus rambut Aily pelan dan detik berikutnya berdiri.
"Makanlah dengan baik, kurasa tubuhmu terlalu kecil untuk ukuran anak tingkat satu," ucap Chanyeol terakhir kali sebelum pergi sambil menyeringai.
Aily terdiam. Tidak. Gadis itu tidak sakit hati dengan ucapan terakhirnya yang mengatakan dirinya kecil. Bahkan berpikir untuk kesal pun tidak ada. Ia terlalu bahagia dan tidak percaya dengan panggilan itu.
Gadis kecil.
Ah, tidak-tidak. Ada satu lagi, sentuhan itu. Chanyeol menyentuh rambutnya dengan lembut. Ya, lembut dan sangat hangat. Sial. Mengapa gadis itu berpikiran ingin bergulung-gulung di sini?
Aily masih berusaha berpikir tentang kejadian sore ini. Orang lain mungkin menganggap ini pertemuan biasa yang tidak berarti sama sekaliă…ˇChanyeol pun mungkin juga merasa demikian. Tapi mengapa gadis itu sangat bahagia hingga suhu tubuhnya menghangat? Ya, meskipun ia mengakui tubuhnya memang beku saat di dekatnya. Benar-benar merumitkan.
Dengan semangat sebesar energi matahari, Aily berdiri. Ini terasa aneh. Rasa lelah yang sempat menjalar di kakinya kini menghilang entah kemana. Dan yang lebih aneh lagi, perasaan hangat yang sempat mendiami hatinya kini perlahan mulai mendingin seiring dengan matahari-nya yang menjauh. Matahari-nya terbenam.
Gadis itu semakin sadar. Keberadaan matahari memiliki arti dalam hidupnya. Ia berharap, matahari-nya tidak akan pergi terlalu jauh. Ya, ia takut jika hatinya kedinginan.
Komentar
Posting Komentar