Chapter 3 My Star Garden; New Blanket

Aily terbangun pagi-pagi sekali. Menyibakkan selimut, duduk, kemudian mengangkat tangan ke atas dan memutarnya sambil menguap. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan dengan ikatan berada diujung yang sebentar lagi akan lepas. Ia menatap sebentar laki-laki di sampingnya. Nampaknya Aily sedikit terkejut. Ya, mengingat malam kemarin adalah malam pertama bersamanya.

Aily selesai mandi, dan sekarang hanya berbalut handuk berwarna putih yang melilit sebatas ketiak, sementara bawahnya sebatas pertengahan paha. Pikir Aily acuh. Ah, laki-laki itu tidak akan melihat penampakannya karena masih tidur. Maka tanpa rasa apapun, gadis itu melepas handuk dan berganti di sana.

Aily berdiri di depan kaca. Ia sudah mengenakan kemeja pendek berwarna putih, berganti pada rok bermotif kotak-kotak warna pink-nya. Baru saja akan memasukkan kaki kanan ke dalam lubang rok, pergerakannya terhenti di pertengahan.

Chanyeol bangun dan dengan polosnya berjongkok di tepian ranjang.

Tidak buru-buru memakai, Aily malah mengembalikan kakinya menapak lantai dua-duanya.

Aily terdiam beberapa detik seperti sedang linglung. Detik selanjutnya, ia akan berteriak tapi aksi Chanyeol benar-benar telah membekukan segala sesuatu yang sedang aktif ditubuhnya.

Laki-laki itu mendekat, memegang rok Aily yang belum terpakai tetap dengan posisi berjongkok.

"Masukkan kaki kanan," titah Chanyeol semakin membuat pikiran Aily kosong se-kosong-kosongnya. Maka dengan bodoh, gadis itu mengangkat kaki kanan dengan cepat. Yang lebih bodoh adalah ketika Aily mengangkat kaki, cara berdirinya tidak seimbang sehingga dengan spontan kedua tangan Aily berpegangan pada bahu Chanyeol, takut jatuh.

Aily merasa tidak tau diri. Bagaimana ia bisa lepas kendali menuruti laki-laki tidak jelas itu? Ya, meskipun ia masih mengenakan celana pendek, tapi bukankah ini sama sekali tidak sopan? Astaga... Aily lama-lama bisa gila dan banyak dosa tinggal bersama idol jadi-jadian sepertinya.

"Sekarang kaki kiri..," seru Chanyeol sambil tersenyum-senyum.

Aily menurut, arah pandangnya menyusur ke atas seiring dengan Chanyeol yang berdiri, tetap memegang roknya yang telah mencapai pinggang.

"Putar tubuhmu..."

Aily mengernyit dan diam saja. Hingga detik setelahnya, Chanyeol memutar pinggang Aily tidak sabar membuat gadis itu berbalik memunggunginya.

Aily berdebar. Ia mulai mendengar geseran retsleting bagian belakang roknya yang ditutup.

"Jangan pendek-pendek kalau memakai rok," ucap Chanyeol sambil menatap Aily penuh arti. "Aku tidak suka."

Aily masih melongo, tapi pada akhirnya tersadar. "Kau kurang ajar!" bentaknya dengan suara pelan.

"Hah? Aku hanya tidak mau Ailychan dilihat laki-laki lain. Itu tidak bagus," jawab Chanyeol.

Aily menggeleng super cepat dengan wajah memerah. "Bukan itu! Apa maksudmu memakaikan rok-ku? A-aku malu!"

Chanyeol cemberut. "Aku hanya ingin membantu. Apa aku salah?"

Aily kasihan. Ah, ini semata-mata bukan salahnya. Mungkin mulai saat ini Aily harus sering-sering memainkan My Star Garden supaya Chanyeol berkembang menjadi lebih dewasa.

Aily lantas berbalik memakai dasi yang juga berwarna pink, kemudian menutup hem putih yang dipakai tadi dengan blazer berwarna putih pula. Semua itu melekat pas di tubuhnya yang ramping. Setelahnya, Aily mengikat rambut menjadi satu dan merapikan poninya dengan asal menutupi dahi. Tak lupa, Aily memakai bedak bayi kesukaannya, lalu mengoleskan sedikit liptint pada bibirnya yang kecil.

Chanyeol seolah tidak berkedip. Berdiri tegak di belakang Aily dan memerhatikannya melalui pantulan di cermin.

Aily mengambil tas ransel warna abu-abu polos yang bertengger di atas meja belajar, berniat ke luar kamar.

"Apa Ailychan lama? Kapan Ailychan pulang?"

Pertanyaan itu menghentikan Aily. "Aku pulang jam tiga."

Chanyeol mendekat. "Berarti kurang berapa jam lagi Ailychan pulang?"

"Astaga. Aku saja belum berangkat. Tunggu saja, yang penting aku kembali nanti. Oke?" Aily mengelus rambut lembut Chanyeol sambil berjinjit dan tersenyum, membuat laki-laki itu menatap Aily penuh kagum.

Dengan sangat terkejut, Aily merasa tubuhnya aneh karena Chanyeol memeluk secara tiba-tiba.

"Ailychan jangan lama-lama ya... Aku tidak punya teman... Oh ya, Ailychan nanti bermain drama? Semoga berhasil ya..."

Aily berdeham kecil mendapati pipinya menempel pada dada bidang itu. "T-terimakasih... Ah, Chanyeol... Aku bisa terlambat..," ucapnya sambil menjauhkan tubuh.

Chanyeol melepas pelukannya kemudian melambaikan tangan berulang-ulang sambil tersenyum ala iklan pasta gigi sehat putih berseri. "Oke. Daaaa..."

Aily balas tersenyum. Setelah ke luar, tak lupa ia mengunci pintu supaya keberadaan Chanyeol tidak terdeteksi sang eomma.

🌱🌱

Demi apa Aily berdebar menunggu adegannya di dalam drama yang ditampilkan. Adegan pertama dan kedua tidak masalah, yang menjadi masalah adalah ketika adegan bersama sosok teman, lalu mengungkapkan perasaan. Aily benar-benar tidak bisa akting marah.

Namun mau bagaimana lagi, semua hal harus bisa dilewati meskipun Aily tidak bisa. Hampir siap pada adegan yang dikhawatirkan, alangkah terkejutnya Aily mendapati lawan mainnya bukan laki-laki yang sudah latihan bersamanya.

Aily berdebar. Aily yakin benar jika peran teman digantikan olehnya, segala amarah pasti bisa muncul dengan cepat. Oke. Ini tidak masalah. Aily bersemangat.

Kembali lagi pada panggung drama yang ditonton seluruh teman angkatannya, Aily sudah meletup-letup melihat wajah laki-laki pengganti itu.

Aily duduk di sebuah kursi panjang, yang disetting berada di taman.

"Kau ada waktu malam ini?" laki-laki itu menghampiri.

"Sepertinya tidak," jawab Aily tanpa melihat.

Laki-laki itu diam.

"Ada apa? Berbicaralah yang penting-penting," sambung Aily.

Laki-laki itu menggeser tubuhnya mendekatã…¡yang Aily yakini perlakuan itu tidak ada di dalam naskahnya. "Aku ingin mengatakan sesuatu..."

"Kenapa harus nanti malam?? Sekarang sa-"

Dengan secepat kilat, laki-laki itu mendekatkan wajah pada Aily, membuat semua yang menyaksikan berteriak dan menutup mulut.

Aily dengan sigap mendorong tubuhnya tepat sebelum satu detik laki-laki itu akan menciumnya.

Ini bukan drama. Aily sungguhan marah dan ingin berteriak keras-keras.

"Apa yang kau lakukan?!" napas Aily terengah dengan bahu naik turun, sementara matanya memerah.

Siapapun yang melihat sangat kagum dengan penampilan Aily tanpa tau bahwa adegan ini sama sekali tidak seperti dalam naskahnya.

"Aku mencintaimu!" Laki-laki itu mendekat lagi dan memeluk tubuh Aily kasar.

"Aku tidak mau! K-kau tidak bisa memaksa dan kita hanya bisa menjadi teman!"

Perdebatan masih berlanjut, hingga pada akhirnya adegan itu dipotong dan menampilkan adegan lain.

Aily membuang napas pelan menuju belakang panggung. Gadis itu masih terengah dan ingin menangis. Maka menujulah ia ke toilet, berdiri di depan cermin, lalu membasuh mukanya di wastafel.

"Woah, kau ternyata bisa memainkan karakter itu dengan baik..."

Aily menoleh. Belum sempat menenangkan pikiran, laki-laki itu sudah bersedekap di belakangnya dengan tampang bangga.

Aily hampir meledak. "Aku tidak suka sunbae seperti itu! Bagaimana kalau itu tadi benar terjadi? Sunbae mau bertanggung jawab?"

Sehun tertawa pelan. "Bertanggung jawab? Ya, aku akan memberimu bonus ciuman satu kali lagi..."

Aily memukul bahu tegas Sehun dengan kepalan tangan bertubi-tubi sambil berteriak tidak jelas. Ia tidak peduli meskipun laki-laki itu kakak tingkatnya. Aily tidak takut selama ia merasa di pihak yang benar.

"Aily, jangan memukulku. Bukankah lebih baik seperti ini?" ucap Sehun lantas memeluk Aily hingga gadis itu kebingungan.

"S-sunbae... Aku tidak mau..."

"Aku ini tampan. Lalu maumu yang seperti apa?"

"Ya, sunbae memang tampan. Untuk itu jangan mendekatiku karena aku tidak pantas dengan orang tampan," jawab Aily masih berusaha menjauhkan tubuh tinggi Sehun.

Sehun tertawa. "Penolakan macam apa itu?"

"Sudahlah sunbae, aku tidak mau main-main. Aku harus kembali ke kelas..."

Sehun tersenyum miring lalu melepas kaitan tangannya. "Aku tidak akan menyerah sebelum bisa mendapatkan hatimu, Aily..."

🌱🌱

Aily berjalan cepat dengan bibir manyun karena sebal. Wajahnya masih basah karena air. Ya, saking kesalnya pada Sehun ia sampai lupa belum mengeringkan wajah. Saat langkahnya memasuki pintu kelas, sorakan teman-temannya hampir memekakkan telinga.

"Woah! Aktris kita datang... Kita sambut... Hwang Aily! Yeayy!!"

Aily tidak menjawab dan hanya menghempaskan pantat ke kursi. Mengambil ponsel, mengaitkan earphone, lalu memulai aplikasi game-nya.

Entahlah, ia tidak bisa mendengar ocehan teman-temannya sekarang.

"Joheun achim~"

Aily tersenyum sendiri mendengar suara Chanyeol.

"Tampannya...," gumam gadis itu tanpa sadar sambil menciumi layar ponsel.

Teman-temannya melihat dan menatapnya jijik. Yang dibilang tampan hanyalah sebuah animasi dalam video game?

Aily yang asyik dengan dunianya sendiri perlahan mulai berpikir, mengapa bisa ia mencium animasi Chanyeol padahal saat di kamar dipelukpun ia tidak nyaman? Astaga. Ia baru tersadar bahwa seseorang bisa saja berkhayal tidak senonoh, tapi jika dihadapkan pada objek yang sebenarnya ia akan mati kutu. Benar, tidak?

Cukup lama, Aily masih bermain game. Mencari teman dan melihat dorm dari mereka adalah hobby-nya. Ya, dorm itu sangat mewah jika dibandingkan dengan milik Aily.

Setelah cukup lama, akhirnya datanglah comet baru yang tak lain adalah petrified wood. Ya, tentu saja, setelah comet itu muncul, batu Chanyeol datang bertubi-tubi membuat Aily kegirangan. Aily tidak peduli saat gurunya memasuki kelas. Aily hanya sedang menunggu kapan ia mendapatkan celana Chanyeol.

Setelah mengorbankan mist untuk mempercepat tumbuhnya bunga,

"Happy paireseu Chanyeolieyo!"

Animasi Chanyeol muncul dengan celana baru di sana. Aily terlonjak senang secara berlebihan.

"Hwang Aily! Keluar dari jam pelajaran saya!"

Aily terdiam. Seketika ia melepas kaitan earphone dan meletakkan ponselnya di atas meja, membiarkan animasi Chanyeol tersenyum sendirian. Wajah gadis itu memanas karena malu, sementara matanya memerah karena ingin menangis.

Jujur, baru kali ini ia dibentak guru seperti itu.

"M-maaf songsae-"

"Keluarkan selembar kertas dan hari ini kita ulangan."

Aily semakin menunduk karena diacuhkan. Merasa tidak berguna di kelas, maka ia menurut dan berjalan ke luar, membiarkan dirinya di tatap berpasang-pasang mata.

Aily duduk di taman depan kelas yang panas. Keringatnya semakin mengucur berlebihan karena pada kenyataannya Aily belum makan. Perlahan kepalanya pusing dan pandangannya berkunang-kunang.

Dengan langkah lesu, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke UKS sendirian. Berbaring, tidur, tanpa sadar telah melewatkan beberapa jam pelajaran selanjutnya.

Aily sempat terbangun beberapa kali. Namun entah, tak ada niatan baginya untuk kembali ke kelas. Ia tidak mood belajar untuk hari ini. Ia ingin pulang dan melihat celana baru Chanyeol. Pasti laki-laki itu akan tertawa girang mendapatkannya. Namun, Aily tidak mungkin pulang sementara gerbang sekolah dijaga beberapa security. Dan masalahnya, Aily tidak pandai merangkai kata dalam berbohong.

Sampai bel pulang berbunyi nyaring, gadis itu kembali ke kelas hanya untuk mengambil tas. Begitu ke luar gerbang, tangannya langsung ditarik seseorang yang tak lain adalah Sehun.

Benar-benar hari yang sial bagi Aily.

"Sehun-sunbae... S-sakit..," keluh Aily saat tangannya ditarik menuju sepeda motor.

"Kuantar," ajaknya singkat.

"T-tidak mau, aku bisa pulang sendiri...," Aily sedikit merengek.

"Aku tau kau sakit sejak tadi, jadi kuan-"

"Aku bisa dimarahi eomma kalau diantar laki-laki!"

"Akan berbeda jika laki-lakinya aku. Cepat naik," putus Sehun.

Aily terdiam.

"Cepat naik!"

Gila. Ini sungguh gila. Aily hanya bisa pasrah dan naik ke sepeda motor Sehun begitu saja.

🌱🌱

"Terimakasih sudah mengantar," ucap Aily datar setelah turun tanpa tersenyum.

"Aku akan menemui eomma-mu..."

"S-sunbae... Ta-tapi..."

Belum memencet bel, pintu sudah terbuka terlebih dulu.

Wanita paruh baya yang merupakan eomma dari Aily menatap Sehun penuh tanda tanya. Beliau seakan kagum karena baru pertama kali putrinya mengajak teman laki-laki tampan seperti ini.

"Annyeonghaseyo, Sehun imnida...," ucap Sehun seraya tersenyum manis menganggukan kepalanya sopan.

"Oh, nak Sehun... Silahkan masuk..."

Aily terdiam.

"Aily, bagaimana kau ini? Temannya itu dipersilahkan, jangan diam saja seperti itu..."

Aily berdecak kemudian merengek memegangi lengan sang eomma. "Eomma... Aily tidur dulu ya... Aily sudah mengantuk sejak tadi..."

"Astaga, kau memang sering tidur telat. Seperti ini kan jadinya? Lalu bagaimana dengan nak Sehun?"

Aily mendendikkan bahu dengan kurang ajar, lalu berlari kecil menuju ke kamarnya sambil tersenyum-senyum.

Ia ingin bertemu Chanyeol.

Baru membuka pintu, dilihatnya laki-laki tinggi yang sudah bercelana panjang tengah duduk di ranjang, bersandar pada bantal, dengan satu kaki yang diangkat di atas lutut kaki lainnya yang ditekuk.

"Darimana saja jam empat baru pulang? Bukannya Ailychan bilang jam tiga? Telat berapa jam? Empat dikurangi tiga... Satu jam?"

"Aku baru saja-"

"Suara laki-laki siapa itu? Apa dia tampan? Tampan mana denganku? Aku ingin menemui dan memukulinya..," Chanyeol baru saja menggeser duduknya mendekat ke tepian ranjang.

Aily terkejut, "jangan..."

"Berani-beraninya dia membuat Ailychan pulang telat. Dia tidak tau kalau Ailychan ada yang punya? Ya! Chan. Ailychan. Itu artinya Aily milik Chanyeol," Chanyeol bersungut-sungut.

"Woah, bagaimana celanamu? Kau senang?" Aily berbinar dibuat-buat. Sebenarnya ia sengaja bertanya supaya Chanyeol mengurungkan niat untuk menemui Sehun.

Chanyeol seolah lupa dengan aksi marahnya. Ia terlonjak dan melompat di atas kasur, membuat Aily khawatir kasurnya anjlok.

"Ya! Ini sangat-sangat-sangat bagus... Aku suka... Terimakasih Ailychan..."

Aily tersenyum setelah seharian tidak sama sekali. "Kau terlihat tampan..."

Chanyeol mengangguk mantap dengan tatapan serius. "Tentu saja!"

Aily menghela napas, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang tempat Chanyeol berdiri. Wajahnya lesu. Gadis itu ingin menangis karena sebal pada Sehun. Bagaimana bisa laki-laki itu mengambil hati eomma-nya?

Chanyeol mendudukkan pantatnya perlahan. Melihat Aily yang menenggelamkan pipinya dan cemberut di atas bantal membuat Chanyeol penasaran sehingga ikut berbaring dan menempelkan pipi di tempat yang sama sambil menghadap Aily.

"Aily kenapa?" tanya Chanyeol pelan-pelan.

"Sehun kurang ajar..," balas Aily sambil menghirup sesuatu dari hidung satu kali.

Chanyeol menautkan alis. "Sehun? Laki-laki yang mengantar Aily?"

Aily mengangguk pelan sambil membenarkan wajahnya membalas tatapan Chanyeol.

"Kurang ajar kenapa? Dia memukul Aily? Membuat Aily menangis?"

Gadis itu menggeleng. "Sehun menyukaiku, tapi aku tidak. Dia kasar dan suka memaksa..."

Chanyeol sedikit melotot. "Besok bawa aku ke sekolah dan akan kupatahkan lehernya!"

Meskipun hampir menangis, Aily akhirnya tersenyum geli. "Kau memang bisa melawannya? Kau masih kekanakan."

"Kan sudah kubilang, mainkan aku setiap hari, dan aku akan berubah lebih dari yang Aily bayangkan. Jangankan berani menyukai Aily, melihat Aily pun pasti Sehun tidak berani kalau ada aku," Chanyeol terkekeh.

Aily bingung. "Lebih dari yang kubayangkan?"

Chanyeol mengangguk.

"Aku takut kalau kau lebih pemaksa dari Sehun..."

Chanyeol berucap pelan. "Tidak, aku tidak seperti itu. Bukankah aku penurut?" tanyanya dengan wajah polos. Matanya berkedip menanti jawaban.

Aily menjawab lesu. "Ya, kau penurut. Tapi jangan sekali-kali seperti tadi pagi, ya? Aku tidak suka kau seperti itu."

"Tadi pagi itu yang mana?" tanya Chanyeol.

"Jangan menggantikan aku pakaian apapun."

"Aku hanya ingin berbalas budi, karena Ailychan sudah memberiku pakaian baru..," jawab laki-laki itu polos.

"Tidak perlu."

"Lalu apa yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan Aily?" Chanyeol bertanya lagi.

"Tidak ada."

"Tidak bisa. Ah, bagaimana kalau aku jadi selimut saja?"

Aily mengernyit bingung. "Maksudnya?"

"Ya. Aku tau Aily kemarin malam kedinginan meskipun pakai selimut. Jadi, aku akan berbalas budi dengan menjadi selimut kedua untuk Aily, bagaimana? Aily tenang saja, aku hangat, kok..."

Aily terdiam. Berkedip. Menatap Chanyeol sedih.

"Ututututu... Ailychan mengapa sedih, hm? Selimut baru Aily ada di sini... Dangdang..."

Chanyeol merentangkan tangannya, disambut Aily yang tertawa pelan tanpa sadar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chanyeol x Sehun - We Young Lyrics

Chapter 4 My Star Garden; New Friend?

Imaginary Night (Chanyeol Imagine)