Chapter 2 My Star Garden; First Night
Aily tersenyum bangga karena ada yang menuruti apa katanya terlebih itu adalah seorang laki-laki. Ya, Chanyeol tidur entah itu telentang atau tengkurap yang jelas seluruh tubuhnya tertutupi selimut kuning milik Aily. Memang tampak jelas, dilihat dari jauhpun bisa diketahui bahwa di balik selimut ada seonggok manusia dan siapapun pasti bisa menebaknya. Mana mungkin ada guling sebesar itu? Lagi pula, Aily tidak punya guling di sini.
"Chanyeol..," Aily mengguncang pelan bagian atas tubuhnya.
Dengan sekejap laki-laki itu membuka selimut sebatas lehernya kemudian tersenyum manis. "Apa? Aku sudah boleh ke luar?"
Aily tampak kasihan dan tidak enak hati. "B-begini, aku takut kalau eomma sewaktu-waktu masuk dan tau ada orang lain di ranjangku. Bisa kau tidur di kolong saja? M-maafkan aku, aku tau kolongnya sangat sempit dan tubuhmu besar, tapi aku benar-benar takut. Kau tau maksudku, 'kan?"
Chanyeol berkedip pelan dua kali, membuat Aily semakin kasihan dan tidak tega. "Oke. Aku akan tidur di kolong," ucapnya lalu bangkit bersamaan dengan helaan napas yang dibesar-besarkan.
Aily tengah berpikir sebentar, berpikir hal apa yang bisa menghilangkan rasa tidak enak hatinya pada Chanyeol. "Maaf, ya..," sesalnya.
"Ailychan tidak salah. Aku juga tidak mau kalau nanti Ailychan dimarahi eomma karena ada aku di sini," laki-laki itu kembali tersenyum.
Aily terdiam. Sungguh gadis itu mudah terbawa perasaan. Dengan begini saja ia sudah berdebar dan menganggap Chanyeol adalah laki-laki paling baik di dunia. Berlebihan.
Hari Minggu, jadilah Aily mau tidak mau pergi ke dapur atau apapun itu supaya tidak dianggap gadis malas. Mungkin tidak ada hal penting yang dilakukannya karena eomma-nya saja juga tidak pernah menyuruh-nyuruh. Maka dengan santainya, Aily hanya duduk bersila memainkan My Star Garden di hadapan sang eomma yang sedang mencuci piring.
Jangan ditiru, Aily adalah gadis yang tidak baik. Aku tidak mau bertanggung jawab jika salah satu dari kalian menirunya.
Oke. Suara-suara yang diciptakan game itu mengundang perhatian sang eomma. Beliau mencoba mendekat dan menatap putrinya yang tertawa-tawa tidak jelas.
Ya, Aily memang sudah mendapat hoodie berwarna pink untuk animasi Chanyeol. Ah, betapa senangnya mengingat laki-laki itu ia tidurkan di bawah ranjang. Setidaknya dengan hoodie meskipun tanpa celana panjang, ia bisa sedikit hangat.
Malam yang dingin bagi jiwa yang sepi seperti Aily. Gadis itu akan menguap lebar-lebar tanpa ditutupi dan langsung memancal selimut padahal masih jam delapan. Ia tidur memiring cukup lama, tanpa mengingat bahwa Chanyeol ada di sini. Dengan segera, Aily bangkit setengah badan, melongokkan kepala ke bawah kolong. Aily tersenyum karena hal pertama yang menyapanya adalah wajah polos Chanyeol dengan mata terpejam.
"Chanyeolaaa.., kau tidak mau bermain denganku?" Aily memencet hidungnya.
Tidak ada jawaban.
Aily cemberut sedih dan lebih memanjangkan panggilannya manja. "Chanyeolaaaaaa..."
Entah mendapat intruksi darimana, Aily berinisiatif menyentuh perutnya. Detik itu, Chanyeol bergerak-gerak dan detik selanjutnya tersenyum, disusul Aily.
"Annyeong~" sapa Chanyeol dengan nada rendah sambil melambaikan tangan.
Chanyeol menguap lebar tanpa ditutupi sebelum akhirnya bangkit dan berseru sambil melompat. "Hak!!!"
Aily terkikik geli melihat tingkahnya.
"Woah, aku sudah punya pakaian baru, tapi celanaku pendek..," Chanyeol tersadar.
"Semuanya bertahap. Bersabarlah, rookie Chanyeol..," ucap Aily. Ya, perlu diketahui bahwa animasi Chanyeol yang dirawat Aily masihlah rookie.
"Mainkan aku sekarang. Aku ingin mendapat celana hangat!"
Aily menatap sedih. "Tidak bisa, kau sabar ya, pakai celana pendek itu saja dulu. Aku harus belajar untuk besok. Ah, lebih tepatnya hafalan," gadis itu mengobrak-abrik isi tas di sampingnya.
Chanyeol memerhatikan. "Hafalan apa?"
"Teks drama," jawab Aily tanpa melihat laki-laki itu.
"Bermain peran?" Chanyeol memastikan.
Aily mengangguk. Entah mengapa, mengingat setiap adegan dari drama itu membuat Aily kesal. Maka tanpa sadar atau tidak, Aily menggeser duduknya, memegang tangan Chanyeol dan merengek layaknya anak kecil. "Chanyeolaa..."
Yang dipanggil hanya diam penuh tanya.
"Kau tau? Di dramaku ini, aku menjadi peran utama. Aku tidak suka karena di sana sifatku berlawanan. Aku selalu gagal memainkannya," ucap Aily bersungut-sungut.
"Ailychan harus banyak berlatih," jawab Chanyeol.
Mendengar itu, Aily langsung berbinar. "Ayo berlatih! Kau membaca saja. Nanti kalau ucapanku ada yang tidak sesuai, kau boleh mengingatkan."
Chanyeol tersenyum dan mengangguk mantap.
Aily berdeham lantas berdiri. "Jadi seperti ini, kau adalah teman baikku, tapi tiba-tiba suatu hari kau menyatakan cinta. Dan dari situ, aku marah dan memaki-maki," jelas Aily hampir tidak berjeda. "Tapi... Aku tidak bisa akting marah..."
"Supaya Ailychan bisa marah, anggap saja lawanmu adalah orang yang paling menyebalkan," jawab Chanyeol.
Seperti mendapat pencerahan, Aily kembali bersemangat. "Oke. Mulai...."
Sesuai dengan naskah yang dipegang Chanyeol, Aily hanya duduk sendiri di tepian ranjang hingga laki-laki itu menghampiri dan membuka pembicaraan.
"Kau ada waktu malam ini?"
"Sepertinya tidak."
Chanyeol diam.
"Ada apa? Berbicaralah yang penting-penting."
"Aku ingin mengatakan sesuatu..."
"Kenapa harus nanti malam?? Sekarang saja..."
Chanyeol berpikir sebentar tentang tulisan di naskah yang menjelaskan untuk menyatakan cinta. Tidak ada petunjuk laku di sana. Maka dengan inisiatif sendiri, Chanyeol mendekat dan memeluk Aily sambil berkata,
"Aku mencintaimu..."
Aily sebenarnya sudah bersiap untuk marah panjang lebar sebagaimana semestinya, tapi karena mendadak mendapat pelukan seperti ini, Aily jadi blank se-blank-blank-nya. Ia berpikir, bukankah seharusnya tidak ada adegan pelukan??
Chanyeol sebenarnya juga berpikir mengapa Aily belum marah, tapi ia diam saja dan justru berpikir positif bahwa apa yang dilakukan Aily adalah bagian dari adegannya.
Aily bingung dan terdiam cukup lama.
Bibir Chanyeol akhirnya gatal ingin bertanya. "Aily, apa di drama itu memang pelukan sangat lama?"
Aily yang terhanyut dan baru saja memejamkan mata kini tersadar dan memaki diri sendiri dalam hati. Bagaimana bisa dirinya menikmati pelukan itu?
Detik kemudian, Aily menjauh dan mendorong tubuh Chanyeol seolah jijik.
"Hey! Kau tidak seharusnya memelukku! Bukankah itu hanya menyatakan cinta??" Aily salah tingkah.
Chanyeol menampilkan wajah bingung sedikit melongo. "M-maaf, kurasa... Menyatakan cinta lebih romantis dengan memeluk. Aku salah, ya?"
Aily menghela napas dan merasa bingung pada situasi. "Tidak perlu minta maaf. Sudahlah, aku akan berlatih sendiri dan kau tidur saja. Terimakasih."
"Di bawah?" tanya Chanyeol hati-hati karena takut Aily marah lagi.
Gadis itu mengangguk.
Dan cukup lama, Aily berlatih dengan bertanya sendiri dan dijawab-jawab sendiri, sementara Chanyeol merebahkan diri di atas lantai samping ranjang.
Pada akhirnya Aily tidak tega melihat Chanyeol meringkuk memperlihatkan setengah dari pahanya. Sudah kubilang, celana biru tua itu berukuran pendek. Sebenarnya Aily dilema antara menyuruh Chanyeol tetap di bawah atau menyuruh tidur di sampingnya.
Nyatanya, Aily adalah gadis belia berhati lembut yang mudah merasakan kesedihan orang lain. Ia tau Chanyeol sedih dan tidak nyaman tidur tanpa alas seperti itu.
"Chanyeolaa, kau diijinkan tidur di sampingku...," ucap Aily sedikit tidak yakin.
Chanyeol mengerjap lalu mengucek mata. Ah, rupanya laki-laki itu sudah hampir tertidur. "Di atas ranjang?" tanyanya sambil memandang Aily.
"Ya, karena aku belum mendapatkan celana untukmu. Kalau kau sudah punya celana, kau kembali tidur di bawah," jawab Aily berlagak tidak peduli.
Dari situ Chanyeol berpikir, bagaimana jika ia melepas celananya saja? Apa yang akan dilakukan Aily?
"Baiklah," Chanyeol menepis pertanyaan dihatinya.
Ranjang empuk berseprai pink cerah yang cukup besar untuk ukuran seorang gadis itu dinaiki Chanyeol. Ia berada di tepi kanan, sementara pemiliknya berada di tepi kiri bahkan hampir terjatuh saking ingin menjaga jarak. Keduanya saling memunggungi.
"Ailychan, maaf aku tidak bisa membantumu bermain peran..," lirih Chanyeol sambil berbalik.
"Ailychan marah? Aku janji tidak akan memeluk lagi sebelum dewasa," lanjutnya.
"Memangnya kau umur berapa? Kau itu lahir tahun 1992. Bukankah itu cukup tua?" Aily berlagak ketus.
Seumur hidup, Aily tidak pernah menyangka bisa berkata dengan nada menjengkelkan pada Chanyeol seperti itu mengingat idolanya adalah orang yang ia puja-puja. Namun, entahlah. Chanyeol yang berada di sampingnya ini seolah berbeda dan sedikit menyebalkan bagi Aily.
"Tidak, aku seumuran dengan Ailychan," jawab Chanyeol.
Aily berdecak. "Bagaimana bisa?"
"Aku belum berkembang. Nanti setelah Ailychan sudah melengkapi semua karakterku, aku akan berubah sesuai Chanyeol yang sebenarnya," jelas Chanyeol.
Aily berbalik menghadap laki-laki itu. "J-jadi kau juga tujuh belas tahun?"
Chanyeol mengangguk. "Bisa saja tiga hari berikutnya aku menjadi dua puluh. Tergantung secepat apa Aily bermain."
Jujur saja, Aily sangat bersyukur karena Chanyeol yang sekarang bisa dibilang sebayanya. Akan sangat gila jika ia seranjang dengan Chanyeol diumur yang sebenarnya. Sebaya saja membuat berdebar, apa lagi lebih dewasa?
Aily bergeleng kepala menyingkirkan perasaan yang tidak-tidak.
"Aily sering-seringlah memainkanku agar aku cepat dewasa dan bisa menjaga Aily," ucap Chanyeol.
Jantung. Aily. Berdebar.
"Kau ingin menjagaku?"
Chanyeol mengangguk mantap. "Menjaga penggemar yang tidak pernah berganti idola dan dengan senang hati merawatku sepertimu."
Aily terdiam. Bagaimana Chanyeol tau? Apa anggapannya selama ini benar bahwa ada tali yang terhubung antara hati idola dengan penggemarnya?
"Mengapa Ailychan melamun? Ailychan dingin? Pakai saja selimutnya sendiri, tidak perlu berbagi denganku. Berada di atas kasur sudah cukup membuat kakiku hangat," ucap Chanyeol.
"B-bukan seperti itu. Aku tidak masalah meskipun tidak memakai selimut. Ah, aku jadi merasa bersalah belum bisa mendapatkan celana untukmu..."
"Aku juga merasa bersalah kalau Ailychan tidak memakai selimut karenaku..."
"Chanyeol, ini hanya masalah kecil jadi cepat pakailah. Aku baik-baik saja," Aily menyodorkan selimutnya.
Chanyeol mengerucutkan bibir dengan sebal. "Ini hanya masalah kecil jadi apa beratnya berbagi seperti ini..."
Aily membulatkan kedua mata saat Chanyeol membentangkan selimut dan menutup tubuhnya dengan sempurna.
Sial. Besok pagi Aily harus bangun pagi, tampil drama, dan dirinya harus tidur dalam posisi tidak nyaman seperti ini? Yang jelas, sampai pagi nanti ia tidak akan berani bergerak. Gadis itu tidak mungkin menghadap ke kiri karena sudah di tepi dan takut jatuh. Di sisi lain, ia juga tidak mungkin berbalik ke kanan menghadap laki-laki itu. Aish! Aily hampir gila memikirkannya.
"Ailychan tidak apa-apa?" pertanyaan Chanyeol membuyarkan lamunan Aily.
"T-tidak ap-"
Ceklek.
Runtuhlah jantung Aily.
Secepat kilat Aily terlonjak menarik selimut untuk menutupi tubuh Chanyeol seluruhnya. Eomma gadis itu tengah berdiri menggeleng-gelengkan kepala.
Demi bumi yang tidak bulat sempurna, Aily merutuki diri sendiri karena sudah berapa kali lupa tidak mengunci pintu kamar. Aily ingin berteriak. Aily ingin melompat. Dan Aily ingin menangis.
"Aily, eomma hanya ingin memastikan kau sudah tidur atau belum. Benar, 'kan? Dasar kebiasaan tidur larut malam tidak bisa diubah."
"Aily sedang berlatih drama, eomma jangan mengganggu!"
Pandangan wanita itu melotot mendapati gundukan panjang lumayan besar berwarna kuning sebelah Aily. "Aily...," ucap beliau menggantung dan entah mengapa bagi Aily terkesan mendramatisir.
"Kau tidur dengan siapa?? Itu siapa??"
Aily bergerak cepat memeluk benda kuning itu lalu menindihnya dengan satu kaki, memperlakukan layaknya sebuah guling.
Tuhan, Aily tidak bermaksud apapun. Ia tidak peduli lagi dianggap seperti apa oleh Chanyeol nanti. Ia tidak peduli jika harus mati dimarahi Chanyeol sekalipun, yang penting bukan dimarahi eomma-nya.
Aily tertawa kaku. "Tentu saja i-ini guling kesayangan Ai-eomma jangan mendekat!!" lanjut Aily berancang-ancang saat wanita itu berjalan satu langkah.
"Sejak kapan kau punya guling?"
Aily kembali memeluk Chanyeol dan justru meletakkan kepala di atasnyaã…¡yang Aily yakini adalah kepala Chanyeol.
"Ah, eomma lupa, ya? Teman Aily pernah memberi hadiah guling berbentuk orang saat Aily ulang tahun. Bagaimana mungkin eomma bisa melupakannya? Astaga... Ah ya eomma, Hoaaaam... Aily sangat mengantuk. Bisa eomma tinggalkan Aily?"
Saat sang eomma akan mendekat,
"Ah, t-tidak-tidak... Khusus malam ini kita cium jauh saja ya eomma... Selamat malam... Mmuuaahh..."
Aily memeluk guling jadi-jadiannya lebih erat dan memejamkan mata.
Wanita itu mematikan lampu menyisakan cahaya remang-remang, tersenyum, dan akhirnya pergi.
Aily terdiam saat detik demi detik kian berjalan. Otaknya sedang tidak berfungsi dan pikirannya kosong. Dengan bodohnya, ditataplah satu kaki yang masih setia dan kedua tangan yang masih mendekap kepala.
Satu detik,
Aily berbalik secara kasar dengan wajah super panas. Dan perlahan, air matanya mengalir.
Malu. Malu. Dan malu. Itu yang Aily rasakan.
Tak ada komentar apapun dari Chanyeol yang baru saja ditindihnya. Tentu saja Aily penasaran hingga nekat menoleh sedikit ke belakang.
Chanyeol masih terbungkus selimut. Dengan perlahan dan menggigit bibir bawah, Aily membuka bagian kepala laki-laki itu hati-hati.
Kain selimut semakin turun, turun, dan kian turun, hingga Aily takjub sekaligus lega melihat wajah bulat berpipi tembam berhidung besar berbibir timbul milik Chanyeol. Laki-laki itu tertidur pulas dan sesekali menggerak-gerakkan bibirnya polos.
Aily pada akhirnya tersenyum, malah memerhatikan wajah itu hingga ia ikut tertidur.
"Chanyeol..," Aily mengguncang pelan bagian atas tubuhnya.
Dengan sekejap laki-laki itu membuka selimut sebatas lehernya kemudian tersenyum manis. "Apa? Aku sudah boleh ke luar?"
Aily tampak kasihan dan tidak enak hati. "B-begini, aku takut kalau eomma sewaktu-waktu masuk dan tau ada orang lain di ranjangku. Bisa kau tidur di kolong saja? M-maafkan aku, aku tau kolongnya sangat sempit dan tubuhmu besar, tapi aku benar-benar takut. Kau tau maksudku, 'kan?"
Chanyeol berkedip pelan dua kali, membuat Aily semakin kasihan dan tidak tega. "Oke. Aku akan tidur di kolong," ucapnya lalu bangkit bersamaan dengan helaan napas yang dibesar-besarkan.
Aily tengah berpikir sebentar, berpikir hal apa yang bisa menghilangkan rasa tidak enak hatinya pada Chanyeol. "Maaf, ya..," sesalnya.
"Ailychan tidak salah. Aku juga tidak mau kalau nanti Ailychan dimarahi eomma karena ada aku di sini," laki-laki itu kembali tersenyum.
Aily terdiam. Sungguh gadis itu mudah terbawa perasaan. Dengan begini saja ia sudah berdebar dan menganggap Chanyeol adalah laki-laki paling baik di dunia. Berlebihan.
🌱🌱
Hari Minggu, jadilah Aily mau tidak mau pergi ke dapur atau apapun itu supaya tidak dianggap gadis malas. Mungkin tidak ada hal penting yang dilakukannya karena eomma-nya saja juga tidak pernah menyuruh-nyuruh. Maka dengan santainya, Aily hanya duduk bersila memainkan My Star Garden di hadapan sang eomma yang sedang mencuci piring.
Jangan ditiru, Aily adalah gadis yang tidak baik. Aku tidak mau bertanggung jawab jika salah satu dari kalian menirunya.
Oke. Suara-suara yang diciptakan game itu mengundang perhatian sang eomma. Beliau mencoba mendekat dan menatap putrinya yang tertawa-tawa tidak jelas.
Ya, Aily memang sudah mendapat hoodie berwarna pink untuk animasi Chanyeol. Ah, betapa senangnya mengingat laki-laki itu ia tidurkan di bawah ranjang. Setidaknya dengan hoodie meskipun tanpa celana panjang, ia bisa sedikit hangat.
🌱🌱
Malam yang dingin bagi jiwa yang sepi seperti Aily. Gadis itu akan menguap lebar-lebar tanpa ditutupi dan langsung memancal selimut padahal masih jam delapan. Ia tidur memiring cukup lama, tanpa mengingat bahwa Chanyeol ada di sini. Dengan segera, Aily bangkit setengah badan, melongokkan kepala ke bawah kolong. Aily tersenyum karena hal pertama yang menyapanya adalah wajah polos Chanyeol dengan mata terpejam.
"Chanyeolaaa.., kau tidak mau bermain denganku?" Aily memencet hidungnya.
Tidak ada jawaban.
Aily cemberut sedih dan lebih memanjangkan panggilannya manja. "Chanyeolaaaaaa..."
Entah mendapat intruksi darimana, Aily berinisiatif menyentuh perutnya. Detik itu, Chanyeol bergerak-gerak dan detik selanjutnya tersenyum, disusul Aily.
"Annyeong~" sapa Chanyeol dengan nada rendah sambil melambaikan tangan.
Chanyeol menguap lebar tanpa ditutupi sebelum akhirnya bangkit dan berseru sambil melompat. "Hak!!!"
Aily terkikik geli melihat tingkahnya.
"Woah, aku sudah punya pakaian baru, tapi celanaku pendek..," Chanyeol tersadar.
"Semuanya bertahap. Bersabarlah, rookie Chanyeol..," ucap Aily. Ya, perlu diketahui bahwa animasi Chanyeol yang dirawat Aily masihlah rookie.
"Mainkan aku sekarang. Aku ingin mendapat celana hangat!"
Aily menatap sedih. "Tidak bisa, kau sabar ya, pakai celana pendek itu saja dulu. Aku harus belajar untuk besok. Ah, lebih tepatnya hafalan," gadis itu mengobrak-abrik isi tas di sampingnya.
Chanyeol memerhatikan. "Hafalan apa?"
"Teks drama," jawab Aily tanpa melihat laki-laki itu.
"Bermain peran?" Chanyeol memastikan.
Aily mengangguk. Entah mengapa, mengingat setiap adegan dari drama itu membuat Aily kesal. Maka tanpa sadar atau tidak, Aily menggeser duduknya, memegang tangan Chanyeol dan merengek layaknya anak kecil. "Chanyeolaa..."
Yang dipanggil hanya diam penuh tanya.
"Kau tau? Di dramaku ini, aku menjadi peran utama. Aku tidak suka karena di sana sifatku berlawanan. Aku selalu gagal memainkannya," ucap Aily bersungut-sungut.
"Ailychan harus banyak berlatih," jawab Chanyeol.
Mendengar itu, Aily langsung berbinar. "Ayo berlatih! Kau membaca saja. Nanti kalau ucapanku ada yang tidak sesuai, kau boleh mengingatkan."
Chanyeol tersenyum dan mengangguk mantap.
Aily berdeham lantas berdiri. "Jadi seperti ini, kau adalah teman baikku, tapi tiba-tiba suatu hari kau menyatakan cinta. Dan dari situ, aku marah dan memaki-maki," jelas Aily hampir tidak berjeda. "Tapi... Aku tidak bisa akting marah..."
"Supaya Ailychan bisa marah, anggap saja lawanmu adalah orang yang paling menyebalkan," jawab Chanyeol.
Seperti mendapat pencerahan, Aily kembali bersemangat. "Oke. Mulai...."
Sesuai dengan naskah yang dipegang Chanyeol, Aily hanya duduk sendiri di tepian ranjang hingga laki-laki itu menghampiri dan membuka pembicaraan.
"Kau ada waktu malam ini?"
"Sepertinya tidak."
Chanyeol diam.
"Ada apa? Berbicaralah yang penting-penting."
"Aku ingin mengatakan sesuatu..."
"Kenapa harus nanti malam?? Sekarang saja..."
Chanyeol berpikir sebentar tentang tulisan di naskah yang menjelaskan untuk menyatakan cinta. Tidak ada petunjuk laku di sana. Maka dengan inisiatif sendiri, Chanyeol mendekat dan memeluk Aily sambil berkata,
"Aku mencintaimu..."
Aily sebenarnya sudah bersiap untuk marah panjang lebar sebagaimana semestinya, tapi karena mendadak mendapat pelukan seperti ini, Aily jadi blank se-blank-blank-nya. Ia berpikir, bukankah seharusnya tidak ada adegan pelukan??
Chanyeol sebenarnya juga berpikir mengapa Aily belum marah, tapi ia diam saja dan justru berpikir positif bahwa apa yang dilakukan Aily adalah bagian dari adegannya.
Aily bingung dan terdiam cukup lama.
Bibir Chanyeol akhirnya gatal ingin bertanya. "Aily, apa di drama itu memang pelukan sangat lama?"
Aily yang terhanyut dan baru saja memejamkan mata kini tersadar dan memaki diri sendiri dalam hati. Bagaimana bisa dirinya menikmati pelukan itu?
Detik kemudian, Aily menjauh dan mendorong tubuh Chanyeol seolah jijik.
"Hey! Kau tidak seharusnya memelukku! Bukankah itu hanya menyatakan cinta??" Aily salah tingkah.
Chanyeol menampilkan wajah bingung sedikit melongo. "M-maaf, kurasa... Menyatakan cinta lebih romantis dengan memeluk. Aku salah, ya?"
Aily menghela napas dan merasa bingung pada situasi. "Tidak perlu minta maaf. Sudahlah, aku akan berlatih sendiri dan kau tidur saja. Terimakasih."
"Di bawah?" tanya Chanyeol hati-hati karena takut Aily marah lagi.
Gadis itu mengangguk.
Dan cukup lama, Aily berlatih dengan bertanya sendiri dan dijawab-jawab sendiri, sementara Chanyeol merebahkan diri di atas lantai samping ranjang.
Pada akhirnya Aily tidak tega melihat Chanyeol meringkuk memperlihatkan setengah dari pahanya. Sudah kubilang, celana biru tua itu berukuran pendek. Sebenarnya Aily dilema antara menyuruh Chanyeol tetap di bawah atau menyuruh tidur di sampingnya.
Nyatanya, Aily adalah gadis belia berhati lembut yang mudah merasakan kesedihan orang lain. Ia tau Chanyeol sedih dan tidak nyaman tidur tanpa alas seperti itu.
"Chanyeolaa, kau diijinkan tidur di sampingku...," ucap Aily sedikit tidak yakin.
Chanyeol mengerjap lalu mengucek mata. Ah, rupanya laki-laki itu sudah hampir tertidur. "Di atas ranjang?" tanyanya sambil memandang Aily.
"Ya, karena aku belum mendapatkan celana untukmu. Kalau kau sudah punya celana, kau kembali tidur di bawah," jawab Aily berlagak tidak peduli.
Dari situ Chanyeol berpikir, bagaimana jika ia melepas celananya saja? Apa yang akan dilakukan Aily?
"Baiklah," Chanyeol menepis pertanyaan dihatinya.
Ranjang empuk berseprai pink cerah yang cukup besar untuk ukuran seorang gadis itu dinaiki Chanyeol. Ia berada di tepi kanan, sementara pemiliknya berada di tepi kiri bahkan hampir terjatuh saking ingin menjaga jarak. Keduanya saling memunggungi.
"Ailychan, maaf aku tidak bisa membantumu bermain peran..," lirih Chanyeol sambil berbalik.
"Ailychan marah? Aku janji tidak akan memeluk lagi sebelum dewasa," lanjutnya.
"Memangnya kau umur berapa? Kau itu lahir tahun 1992. Bukankah itu cukup tua?" Aily berlagak ketus.
Seumur hidup, Aily tidak pernah menyangka bisa berkata dengan nada menjengkelkan pada Chanyeol seperti itu mengingat idolanya adalah orang yang ia puja-puja. Namun, entahlah. Chanyeol yang berada di sampingnya ini seolah berbeda dan sedikit menyebalkan bagi Aily.
"Tidak, aku seumuran dengan Ailychan," jawab Chanyeol.
Aily berdecak. "Bagaimana bisa?"
"Aku belum berkembang. Nanti setelah Ailychan sudah melengkapi semua karakterku, aku akan berubah sesuai Chanyeol yang sebenarnya," jelas Chanyeol.
Aily berbalik menghadap laki-laki itu. "J-jadi kau juga tujuh belas tahun?"
Chanyeol mengangguk. "Bisa saja tiga hari berikutnya aku menjadi dua puluh. Tergantung secepat apa Aily bermain."
Jujur saja, Aily sangat bersyukur karena Chanyeol yang sekarang bisa dibilang sebayanya. Akan sangat gila jika ia seranjang dengan Chanyeol diumur yang sebenarnya. Sebaya saja membuat berdebar, apa lagi lebih dewasa?
Aily bergeleng kepala menyingkirkan perasaan yang tidak-tidak.
"Aily sering-seringlah memainkanku agar aku cepat dewasa dan bisa menjaga Aily," ucap Chanyeol.
Jantung. Aily. Berdebar.
"Kau ingin menjagaku?"
Chanyeol mengangguk mantap. "Menjaga penggemar yang tidak pernah berganti idola dan dengan senang hati merawatku sepertimu."
Aily terdiam. Bagaimana Chanyeol tau? Apa anggapannya selama ini benar bahwa ada tali yang terhubung antara hati idola dengan penggemarnya?
"Mengapa Ailychan melamun? Ailychan dingin? Pakai saja selimutnya sendiri, tidak perlu berbagi denganku. Berada di atas kasur sudah cukup membuat kakiku hangat," ucap Chanyeol.
"B-bukan seperti itu. Aku tidak masalah meskipun tidak memakai selimut. Ah, aku jadi merasa bersalah belum bisa mendapatkan celana untukmu..."
"Aku juga merasa bersalah kalau Ailychan tidak memakai selimut karenaku..."
"Chanyeol, ini hanya masalah kecil jadi cepat pakailah. Aku baik-baik saja," Aily menyodorkan selimutnya.
Chanyeol mengerucutkan bibir dengan sebal. "Ini hanya masalah kecil jadi apa beratnya berbagi seperti ini..."
Aily membulatkan kedua mata saat Chanyeol membentangkan selimut dan menutup tubuhnya dengan sempurna.
Sial. Besok pagi Aily harus bangun pagi, tampil drama, dan dirinya harus tidur dalam posisi tidak nyaman seperti ini? Yang jelas, sampai pagi nanti ia tidak akan berani bergerak. Gadis itu tidak mungkin menghadap ke kiri karena sudah di tepi dan takut jatuh. Di sisi lain, ia juga tidak mungkin berbalik ke kanan menghadap laki-laki itu. Aish! Aily hampir gila memikirkannya.
"Ailychan tidak apa-apa?" pertanyaan Chanyeol membuyarkan lamunan Aily.
"T-tidak ap-"
Ceklek.
Runtuhlah jantung Aily.
Secepat kilat Aily terlonjak menarik selimut untuk menutupi tubuh Chanyeol seluruhnya. Eomma gadis itu tengah berdiri menggeleng-gelengkan kepala.
Demi bumi yang tidak bulat sempurna, Aily merutuki diri sendiri karena sudah berapa kali lupa tidak mengunci pintu kamar. Aily ingin berteriak. Aily ingin melompat. Dan Aily ingin menangis.
"Aily, eomma hanya ingin memastikan kau sudah tidur atau belum. Benar, 'kan? Dasar kebiasaan tidur larut malam tidak bisa diubah."
"Aily sedang berlatih drama, eomma jangan mengganggu!"
Pandangan wanita itu melotot mendapati gundukan panjang lumayan besar berwarna kuning sebelah Aily. "Aily...," ucap beliau menggantung dan entah mengapa bagi Aily terkesan mendramatisir.
"Kau tidur dengan siapa?? Itu siapa??"
Aily bergerak cepat memeluk benda kuning itu lalu menindihnya dengan satu kaki, memperlakukan layaknya sebuah guling.
Tuhan, Aily tidak bermaksud apapun. Ia tidak peduli lagi dianggap seperti apa oleh Chanyeol nanti. Ia tidak peduli jika harus mati dimarahi Chanyeol sekalipun, yang penting bukan dimarahi eomma-nya.
Aily tertawa kaku. "Tentu saja i-ini guling kesayangan Ai-eomma jangan mendekat!!" lanjut Aily berancang-ancang saat wanita itu berjalan satu langkah.
"Sejak kapan kau punya guling?"
Aily kembali memeluk Chanyeol dan justru meletakkan kepala di atasnyaã…¡yang Aily yakini adalah kepala Chanyeol.
"Ah, eomma lupa, ya? Teman Aily pernah memberi hadiah guling berbentuk orang saat Aily ulang tahun. Bagaimana mungkin eomma bisa melupakannya? Astaga... Ah ya eomma, Hoaaaam... Aily sangat mengantuk. Bisa eomma tinggalkan Aily?"
Saat sang eomma akan mendekat,
"Ah, t-tidak-tidak... Khusus malam ini kita cium jauh saja ya eomma... Selamat malam... Mmuuaahh..."
Aily memeluk guling jadi-jadiannya lebih erat dan memejamkan mata.
Wanita itu mematikan lampu menyisakan cahaya remang-remang, tersenyum, dan akhirnya pergi.
Aily terdiam saat detik demi detik kian berjalan. Otaknya sedang tidak berfungsi dan pikirannya kosong. Dengan bodohnya, ditataplah satu kaki yang masih setia dan kedua tangan yang masih mendekap kepala.
Satu detik,
Aily berbalik secara kasar dengan wajah super panas. Dan perlahan, air matanya mengalir.
Malu. Malu. Dan malu. Itu yang Aily rasakan.
Tak ada komentar apapun dari Chanyeol yang baru saja ditindihnya. Tentu saja Aily penasaran hingga nekat menoleh sedikit ke belakang.
Chanyeol masih terbungkus selimut. Dengan perlahan dan menggigit bibir bawah, Aily membuka bagian kepala laki-laki itu hati-hati.
Kain selimut semakin turun, turun, dan kian turun, hingga Aily takjub sekaligus lega melihat wajah bulat berpipi tembam berhidung besar berbibir timbul milik Chanyeol. Laki-laki itu tertidur pulas dan sesekali menggerak-gerakkan bibirnya polos.
Aily pada akhirnya tersenyum, malah memerhatikan wajah itu hingga ia ikut tertidur.
Komentar
Posting Komentar