Chapter 1 My Star Garden; First Morning

Pagi yang indah bagi jiwa yang sepi seperti Aily. Ya, hari ini ia libur dari segenap kepenatan di sekolah yang memekakkan otak. Aily hanya bisa telentang di atas ranjang sambil bermain ponsel. Sesekali, ponsel itu terjatuh dan mengenai wajahnya hingga ia meringis menahan sakit. Konyol, ya?

Kali ini Aily takut pada game online yang dimainkannya semalam. Pasalnya, Chanyeol muncul begitu saja secara nyata. Aily sebenarnya sangat senang bertemu seseorang yang selama ini sudah dianggap sebagai suaminya sendiri terlebih ia sering membayangkan hal yang sedikit lumayan tidak senonoh bersama Chanyeol setiap malam. Namun, tidak dengan cara mengerikan seperti ini juga ia harus bertemu dengannya. Apa ini gila? Apa ia sedang bermain peran dalam drama fantasi?

Dan tiba-tiba saja... Aily terlonjak mendengar sebuah suara tanpa rupa.

"Ailychan mainkan aku!"

"C-Chanyeol??" panggil Aily gugup sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Gadis itu juga menyibakkan selimut barangkali Chanyeol ada di baliknya.

"Mainkan aku sampai mendapat pakaian yang bagus!"

Aily terbelalak mendapati bentakan tepat di depan wajahnya.

"K-kau benar-benar C-Cha-Chanyeol??" Aily terbata.

Chanyeol mengangguk mantap dua kali sambil tersenyum menghilangkan bibirnya. "Benar sekali. Aku Chanyeol-mu," ia lantas tersenyum-senyum sambil menggoyang bahu Aily. "Mainkan aku...."

Aily linglung. Linglung. Dan linglung. Hingga tanpa sadar gadis itu membuka aplikasi game-nya seperti yang Chanyeol minta.

Beberapa saat loading, dan...

"Joheun achim~"

Sapaan dari animasi Chanyeol di game itu menyambut bersamaan dengan Chanyeol yang ada di depannya. Aily memandang layar ponsel, lalu beralih pada laki-laki itu secara bergantian dan berulang.

Ini aneh.

Sangat aneh.

Chanyeol merengek dan menghempaskan tubuh di ranjang hingga Aily hampir terpental. "Ailychan mainkan aku..."

"A-aku sudah memainkan game-nya," jawab Aily polos.

Chanyeol menggeleng cepat dan cemberut. "Mainkan aku jangan itu!" sentaknya menunjuk ponsel.

"A-aku t-tidak menger-"

"Sentuh aku!" Chanyeol memaksa.

Aily hanya menganga, sementara Chanyeol bersila, mendekat pada Aily dengan cara bergeser maju-maju.

"Sentuh aku. Ah tidak-tidak, sentuh kecambah ini," Chanyeol menunjuk gambar tunas yang ada di bajunya.

Dengan perlahan penuh kegugupan, Aily mengulurkan tangan.... dan....

Gadis itu menyentuhnya lembut, perut Chanyeol.

Chanyeol bergetar. "Hahaha~"

Laki-laki tampan itu tertawa hingga matanya mengerut. Detik setelahnya, Aily ikut tertawa dan menyentuhnya sekali lagi.

"Annyeong~" ucap Chanyeol yang kali ini melambaikan tangan layaknya anak tiga tahun.

Aily berkedip-kedip dan dengan bodohnya baru menyadari sesuatu. "Kau sudah sebesar ini, gantilah pakaianmu..."

Chanyeol memandang wajah Aily penuh penekanan. "Kau yang bertanggungjawab atas pakaianku..."

"A-apa?" Aily bingung.

"Carikan aku baju baru dan gantikan pakaianku," pinta Chanyeol dengan mata berbinar.

"Kau jangan bergurau!"

Chanyeol menggeleng-geleng dengan tatapan memelas. "Aku tidak bergurau Ailychan..."

"Apa kau gila??"

Chanyeol menggeleng lagi. "Aku tidak gila... Aku hanya ingin diajak bermain dan dirawat..."

Aily turun dari ranjang, meninggalkan Chanyeol yang berkedip bingung penuh pertanyaan. Matanya selalu tertuju pada Aily kemanapun gadis itu melangkah.

Aily berdiri di depan cermin menatap refleksi dirinya penuh arti. Ditepuklah kedua pipi dan dikuceklah kedua matanya. Ia tidak bermimpi. Sosok menyerupai Chanyeol ini benar-benar nyata ada di kamarnya. Tidak-tidak, tidak menyerupai lebih tepatnya memang sama persis.

Melihat Aily yang cukup lama berdiri, Chanyeol ikut turun dan berlari kecil menghampirinya. "Ailychan..."

Aily mematung, menatap pada cermin yang menampilkan Chanyeol sedang memeluknya dari belakang dengan kepala yang di rebahkan dibahunya.

Kaki Aily meleleh dan sebentar lagi pasti akan meliuk-liuk ke bawah. Segala kekuatan yang ada ditubuhnya terkuras habis karena lingkaran tangan laki-laki aneh itu cukup erat namun lembut.

"Aku boleh bermain di sini?" pinta Chanyeol sambil memandang sisi wajah Aily.

Aily terdiam dan benar saja, tubuhnya sudah mencair laksana ice cream.

"Dari sekian banyak pengguna game, aku suka Ailychan..." Chanyeol tersenyum bahagia dan memeluk Aily lebih erat layaknya kekasih.

Aily terlampau gugup. Ia ingin memberontak. "L-lepaskan, apa maksudmu?"

"Maksudku? Aku hanya ingin dirawat. Aaah jangan dilepas, Aily hangat..."

Aily menghembuskan napas pelan meskipun hati kecilnya senang. Ya, senang ada yang memeluknya seperti ini. Jujur saja, ini adalah kali pertama bagi Aily dipeluk seorang laki-laki. "Kau tau? Seragamku saja kadang masih diseterika eomma. Kau yakin mau aku rawat?" tanya Aily lalu memandang Chanyeol dengan sedikit mendongak.

Chanyeol mengangguk senang.

Aily yang polos balik tersenyum. "Baiklah, karena kau mirip suamiku, aku mau merawatmu."

"Aku memang suamimu itu, Aku Chanyeol..."

"Chanyeol tidak aneh sepertimu, dia laki-laki tampan dan dewasa."

"Aku juga akan seperti itu, tapi nanti setelah Aily merawatku dengan baik."

Aily mengangguk tanda mengerti. Dan ya, Chanyeol tetap memeluknya sampai saat ini.

"Aily... Kau sudah bangun?"

Runtuhlah jantung Aily.

Gadis tingkat menengah atas itu sangat terkejut dan mendorong Chanyeol supaya menjauh dan bersembunyi.

Chanyeol kebingungan. "Itu siap-"

"Sstt! Kau bersembunyi ya, aku bisa habis dimarahi kalau ketahuan membawa laki-laki ke kamar," sela Aily dengan wajah seribu kerutan, kerutan bingung.

Chanyeol tetap bersuara. "Aily kan tidak membawaku..."

Pintu yang tidak terkunci itu terbuka dan mengeluarkan suara yang dihasilkan putaran knop, membuat Aily kalang kabut tidak karuan. Didoronglah tubuh Chanyeol sekuat jiwa raga hingga laki-laki itu terjungkal ke belakang di samping ranjang.

Aman.

Chanyeol akhirnya menggeser diri ke bawah kolong.

"Aily, kau di kamar bersama siapa, sayang?" tanya sang eomma lembut.

Aily tertawa renyah sambil menggaruk tengkuk. "T-tidak ada siapa-siapa..."

Wanita itu mengernyit heran. "Eomma seperti mendengar seseorang jatuh?"

Aily mengobang-ambingkan tangannya ke depan ke belakang. "Ah, itu hanya suara kucing. Ya, tadi ada kucing yang menyelinap ke kemar Aily, lalu Aily mengusirnya hush! hush! Dan kucing itu lari terjatuh saat melompati jendela."

Aily memuji dirinya dalam hati. Ia merasa pandai mencari alasan.

Sang eomma tersenyum. "Oh, begitu rupanya. Ya sudah, putriku cepatlah mandi. Ini sudah siang. Anak gadis tidak boleh malas," ucap beliau lantas mendekat, mencium puncak kepala Aily hingga membuat gadis itu was-was jika eomma-nya tau pergerakan Chanyeol.

"Siap eomma," jawab Aily menahan tawa karena kakinya digelitiki seseorang yang berada di kolong ranjang.

Sang eomma yang baru saja berbalik pun berbalik lagi. "Kau tertawa?"

"Ah, kaki Aily terasa gatal..."

Detik itu, sungguh Aily ingin mengunci kedua mata eomma-nya supaya tidak mengarah ke bawah. Aily takut tangan Chanyeol diketahui.

"Itu akibatnya malas mandi," ucap wanita itu akhirnya.

Aily membuang napas secara kontan saat sang eomma keluar kamar. Setelah dirasa sudah berjalan jauh, Aily menunduk dan menatap Chanyeol dengan emosi yang meletup-letup.

"Kenapa kau menggelitik kakiku??"

Chanyeol yang memang dalam posisi tengkurap kini mendongakkan wajah menatap Aily. "Kaki Aily lembut..."

"Aish!!" Aily kesal dan mengentakkan kaki di depan Chanyeol yang sedang mengedut-ngedutkan hidungnya seperti mengendus sesuatu.

"Baiklah, aku akan mandi," putus Aily berniat pergi, tapi kakinya ditahan Chanyeol.

"Ikut..."

Aily menampilkan wajah super kesal. "Chanyeol kenapa kau mengintilku??"

"Aku ingin bermain dengan Aily, itu saja..."

Aily memutar-mutar pergelangan kakinya berusaha lepas dari genggaman Chanyeol. "Aku mau mandi!"

"Aku juga..."

"Lepaskan! Dasar mesum!"

Chanyeol melonggarkan kaitan tangannya dan berpikir. "Ailychan, mesum itu apa? Apa sejenis makanan?"

Merasa lelah dan bingung, maka Aily berjongkok melipat lututya di hadapan Chanyeol. "Aku juga tidak tau pasti mesum itu apa, tapi kumohon jangan ikuti aku, aku tidak mau, aku bisa dimarahi eomma..," Aily berkaca-kaca diujung ucapan.

Chanyeol membenarkan posisinya menjadi duduk. "Ailychan menangis?"

Gadis itu mengangguk kecil sambil mencebik.

"Jangan menangis. Penggemarku tidak boleh menangis. Kupeluk, ya?"

Aily menggeleng, menciptakan goyangan dari rambutnya yang diikat satu di belakang. "Kau bau kecambah..."

Chanyeol mengerjap dan menunduk menatap kausnya sendiri. "Apa kecambah ini bau? Baiklah aku akan melepas-"

"J-jangan!" cegah Aily panik.

"Kata Aily bau?"

Aily menghela napas berusaha merilekskan diri. Akan sangat rumit jika Chanyeol melepas kaus di sini, maka lebih baik Aily menarik kata-katanya kembali. "Tidak jadi, kecambahmu tidak bau."

Chanyeol berjongkok melangkahkan kakinya satu persatu untuk mendekat pada Aily. "Baiklah. Kupeluk, ya?"

Aily mengangguk. Dan detik itu, Chanyeol tersenyum seraya merentangkan tangannya.

"Kalau kau mau kurawat, berjanjilah menurut padaku. Kalau tidak menurut, aku akan menghapus aplikasinya dan kau akan hilang," ucap Aily pelan.

Chanyeol berkaca-kaca dan mengelus punggung kecil Aily. "Jangan..."

"Kalau seperti itu, jangan nakal."

Chanyeol menunduk sedih memerhatikan puncak kepala Aily yang dipeluknya. "Aku berjanji tidak akan nakal. Aku juga berjanji akan menuruti apa kata Ailychan..."

"Oke." Aily menepuk punggung Chanyeol.

Chanyeol kembali penasaran. "Oke itu apa?"

"Oke itu baiklah," jawab Aily.

Chanyeol tertawa senang. "Yeay!"

Aily melepas pelukan. "Oke. Sekarang aku akan mandi, lalu membantu eomma di dapur, dan kau tidur saja di sini. Pakai selimutku supaya nanti kalau sewaktu-waktu eomma ke sini, beliau mengira kau itu guling. Mengerti?"

Chanyeol mengangguk paham dan tersenyum saat Aily mem-puk-puk rambut lembutnya dengan pelan. Entah mengapa, dilihat dari gerakannya, bisa disimpulkan bahwa Aily sedang mengelus dengan kasih sayang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chanyeol x Sehun - We Young Lyrics

Chapter 4 My Star Garden; New Friend?

Imaginary Night (Chanyeol Imagine)